Our social:

Latest Post

Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Tuesday, 28 June 2016

terapi sufistik

A. Pendahuluan

Istilah Bimbingan Konseling berasal dari bahasa Inggris guidance and counseling. Kata guidance itu sendiri berasal dari kata kerja to guide yang secara harfiyah berarti menunjukkan, membimbing atau menuntun orang lain ke jalan yang benar.[1] Di samping itu, guide juga bisa berarti (1) mengarahkan –to direct (2) memandu –to pilot; (3) mengelola – to manage; (4) menyetir –to steer.[2] Dalam hal ini bimbingan lebih menekankan pada layanan pemberian informasi dengan cara menyajikan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengambil suatu keputusan, atau memberikan sesuatu sambil memberikan nasihat, atau mengarahkan, menuntun ke suatu tujuan. Tujuan itu mungkin hanya diketahui oleh kedua belah pihak dan lebih mengarah pada bimbingan dan penasehatan kepada konseli, pembimbing lebih bersifat aktif dan konseli bersifat pasif,[3] atau disebut juga dengan istilah direktif. Sedangkan kata counseling berasal dari to counsel yang berarti memberikan nasihat atau memberi anjuran kepada orang lain secara face to face (berhadapan muka satu sama lain).[4] Kata ini berbeda dengan bimbingan, karena dalam counseling lebih terfokus pada terjadinya komunikasi antarpribadi dalam menyelesaikan masalah, konseli bersifat aktif dan sebaliknya konselor justru hanya bersifat pasif yang dapat disebut dengan istilah non direktif.

Era globalisasi dan modernisasi membawa dampak positif dan negatif dalam kehidupan manusia, satu sisi perkembangan ini memberi manfaat dalam membantu aktifitas manusia tetapi di sisi lain menimbulkan permasalahan baru seperti de humanisasi masyarakat modern, merenggangnya ikatan-ikatan sosial, dan terabaikannya nilai-nilai spiritual.[5]

Dalam kondisi seperti itu, barangkali manusia akan mengalami konflik batin secara besar-besaran. Konflik tersebut sebagai dampak dari ketidakseimbangan antara kemampuan iptek yang mengahasilkan kebudayaan materi dengan kekosongan rohani. Kegoncangan batin yang diperkirakan akan melanda umat manusia ini, barangkali akan mempengaruhi kehidupan psikologis manusia. Pada kondisi ini, manusia akan mencari penentram batin, antara lain agama. Hal ini pula barangkali yang menyebabkan munculnya ramalan futurolog bahwa di era globalisasi agama akan mempengaruhi jiwa manusia.[6] Para ahli psikiatri mengakui bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan rohani maupun kebutuhan sosial, bila kebutuhan tersebut terpenuhi, maka manusia akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan yang dihadapinya.

Kehidupan modern yang materialistis dan hedonistik hanya menekankan aspek-aspek lahiriyah semata, yang mengakibatkan kehidupan manusia mengalami kegersangan spiritual dan dekandensi moral serta stres menjadi fenomena yang lumrah. Pada titik jenuhnya, manusia akan kembali mencari kesegaran rohaniah untuk memenuhi dahaga spiritualnya dan yang menarik bagi mereka adalah kehidupan yang memberikan ketentraman hati dan kebahagiaan rohani. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang melirik ke dunia mistisisme, Tao, Budhis dan Tasawuf.
William James, seorang filosuf dan ahli jiwa dari Amerika Serikat, mengemukakan tentang pentingnya terapi keagamaan atau keimanan, ia mengatakan bahwa tidak diragukan lagi terapi terbaik bagi kesehatan adalah keimanan kepada Tuhan, sebab individu yang benar-benar religius akan selalu siap menghadapi malapetaka yang akan terjadi.[7] Sedangkan Carl Gustav Jung (Tokoh Psikologi Analistik), sebagaimana dikutip Amir, menyatakan bahwa gangguan psikis pada dasarnya bersumber dari masalah religius. Hal ini juga dapat dilihat dai ungkapan “psikoneurosis” harus dipahami sebagai penderitaan yang belum menemukan artinya, penyebab dari penderitaan ini adalah Stagnasi (penghentian) sepiritual atau Sterisas psikis”.[8]

Sekarang ini, pengobatan alternatif atau dikenal juga dengan pengobatan ‘pelengkap’, ‘integrative’, tidak konvensional, atau pengobatan ‘holistic’, semakin memperoleh pengakuan dan muncul sebagai paradigma baru dalam reformasi bidang kesehatan. Kantor Pengobatan Alternatif (KPA/ The Office of Alternatif Medicine) didirikan tahun 1992 oleh konggres, di bawah koordinasi Institut Kesehatan Nasional (IKN/National Institut of Health), untuk menjelajahi perkembangan dan keabsahan intervensi pengobatan beraneka segi yang tersedia sekarang ini secara lebih memadai.

Pendekatan-pendekatan alternatif termasuk pendekatan Timur, seperti akupuntur, qigong, jamu-jamuan serta aryveda dan sebagainya, termasuk juga aroma therapy, bio feedback, meditasi, sentuhan penyembuhan, imagery, homeopati, pijat, reflexiologi, terapi warna, suara dan musik, terapi transformasional chiropractic, bio elektro magnetic, intervensi pikiran, jiwa, hypnotherapy, olah tubuh, kynesiology, diet, vitamin dan suplemen nutrisi.

Pendekatan-pendekatan alternatif semakin lama semakin popular. Survai yang baru-baru ini dilakukan menunjukan bahwa sepertiga penduduk Amerika Serikat secara rutin memanfaatkan pendekatan-pendekatan alternatif, dan tidak mendiskusikan praktek ini dengan dokter utama yang telah menangani. Pengobatan alternatif pada umumnya memberi kesempatan pada orang untuk terlibat dalam proses pengobatan dan untuk membuat sendiri keputusan yang penting tentang kesehatan dan kesejahteraan manusia. Pendekatan menyeluruh terhadap penyakit, disorder, rasa sakit dan penderitaan akan sangat menolong kemajuaan pengobatan modern.[9]

Perkembangan bimbingan konseling keagamaan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia itu sendiri, pada akhirnya agama memiliki corak bimbingan dan konseling yang khas. Dalam agama kristen kita mengenal konseling pastoral. Konseling ini memandang manusia sebagai makhluk yang dikasihi Tuhan. Kegiatan konseling dilakukan dalam pengakuan dosa agar umat tidak jatuh dalam dosa lagi dan dapat hidup bersih dari dosa.[10] Sedangkan pendekatan konseling Budha di turunkan langsung dari ajaran-ajaran Budhis (Sidarta Gautama) yang memandang manusia mempunyai kebebasan untuk menjadi tercemar atau menciptakan kesempurnaan (Kebudhaan).[11]

Sementara kajian bimbingan konseling Islam berbagai salah satu disiplin ilmu dakwah yang lahir dari pengembangan metode Istimbath dan Iqtibas. Secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan nilai keislaman yang dapat bersinggungan langsung dengan bimbingan konseling Islam adalah tasawuf, karena tasawuf adalah unsur spiritualitas (dimensi esotris) dalam islam. Persentuhan inilah yang kemudian berpeluang besar memberi warna tersendiri bagi trend konseling di era modern.[12]

Kaitannya dengan BKI, bisa dilihat dari posisi BKI dalam kajian ilmu dakwah yang disebut dengan kajian Irsyad. Ia adalah penyebarluasan ajaran agama Islam yang sangat spesifik dengan sasaran kalangan tertentu. Ia menampilkan hubungan personal antara pembimbing dengan terbimbing. Ia lebih berorientasi pada pemecahan masalah individual yang dialami oleh terbimbing. Disamping itu, ia juga mencakup penyebarluasan ajaran Islam di kalangan tertentu dengan suatu pesan tertentu. Pesan itu merupakan paket program yang dirancang oleh pelaku dakwah. Ia dirancang secara bertahap sampai pada perolehan target tertentu.

Praktek pengobatan yang ada dalam Al-Qur’an, yaitu dengan praktik fisik dan psikis. Tapi pada tahap penyembuhan penyakit yang paling utama adalah psikis dalam kejiwaan. Pasalnya, jika kejiwaan dalam diri manusia terganggu, maka mengakibatkan penyakit spiritual dan berakibat pula pada penyakit fisik.[13] Jiwa merupakan hal yang penting bagi manusia karena jiwa dapat mempengaruhi tingkat spritual kita. Bila jiwa kita bersih, maka kita akan lebih dekat dengan Allah. Sedang bila jiwanya lemah maka kita harus melakukan penyucian jiwa melalui metode yang telah diajarkan dalam tasawuf.[14]

Ibn Ataillah dalam kitab Hikam berkata: “Kenikmatan meski bermacam-macam bentuknya, sejatinya adalah musyahadah dan kedekatan dengan-Nya, dan Penderitaan meski bermacam-macam bentuknya, sejatinya adalah karena terhijab dari-Nya. Sebab azab adalah hijab dan kenikmatan sempurna adalah melihat wajah-Nya.[15]
Disini, tasawuf sangatlah berguna bagi kehidupan sehari-hari. Terutama pada saat sekarang, yang menjadikan perubahan sosial yang serba cepat sebagai konsekwensi modernisasi dan industrialisasi, yang mengakibatkan manusia tidak bisa mengikuti perubahan sosial, sehingga berakibat manusia penuh dengan problem dalam kehidupan. Pada akhirnya mengalami timbulnya penyakit yang ada dalam tubuh, penyakit fisik dan spiritual. Timbulnya penyakit berakibat lemahnya untuk lebih dekat kepada Allah.[16]

B. Pembahasan (Metode Terapi Sufi)


download versi lengkapnya di 



download disini


 PERHATIAN download hilangkan centang ( ~) pada kata fast download.


 #makalah #psikologi #islam #pi2n@rt#sufiurban#

PENGARUH BODY IMAGE PADA KECENDERUNGAN ANOREKSIA NERVOSA PADA WANITA

PENGARUH BODY IMAGE PADA KECENDERUNGAN ANOREKSIA NERVOSA PADA WANITA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Judul
Judul proposal ini adalah “Pengaruh Body ImageTerhadap Kecenderungan Anoreksia Nervosa Pada Wanita”
1.2  Latar Belakang Masalah
Wanita biasanya lebih kritis terhadap tubuh mereka baik secara keseluruhan maupun pada bagian tertentu tubuh mereka daripada laki-laki. Persepsi buruk yang dialami wanita pada tubuhnya memacu adanya suatu kategori body image, yang mana sering berhubungan dengan perasaan kelebihan berat badan. Umumnya body image yang buruk dapat menyebakan diet konstan dan diet yang bersifat sementara, obesity, dan gangguan makan serta dapat menyebabkan rendahnya harga diri, depresi, kecemasan dan keseluruhan tekanan emosional.
Wanita terlalu identik dan tidak lepas dengan hal penampilan tubuhnya. Banyak hal yang dijadikan acuan untuk memperindah penampilan fisik, seperti adanya standarisasi bentuk tubuh dan standarisasi berat badan yang pada ujungnya membuat wanita yang memiliki berat badan berlebih mengambil metode pengurusan badan dengan diet.
Munculnya penilaian pada wanita bahwa wanita dikatakan menarik apabila dia memiliki bentuk tubuh yang kurus, tinggi, dan langsing, pada akhirnya membuat tingkat kepercayaan diri wanita menjadi kurang dan selalu menilai dirinya melalui kaca mata orang lain yaitu teman-teman sepergaulannya.
Wanita merasa kurang mampu menerima diri apa adanya, anggapan bahwa dengan memiliki tubuh kurus akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan pergaulan disekitarnya, sehingga hal tersebut menjadi tantangan untuk melakukan diet walaupun dengan cara ekstrim yang dapat membahayakan kesehatannya dan menimbulkan kecenderungan anoreksia nervosa.
1.3  Identifikasi Masalah

1.4  Batasan Masalah

1.5  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian yang akan dicari jawabannya dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah:

1.6  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis:
1.6.1        Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan wacana yang berarti bagi perkembangan ilmu Psikologi, mengenai hubungan antara body image dengan perilaku diet.
1.6.2        Manfaat Praktis




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

silahkan download disini



download


 PERHATIAN download hilangkan centang ( ~) pada kata fast download.


#skripsi #makalah #psikologi #islam #obat #

BENTUK KONSELING SUFISTIK

BENTUK KONSELING SUFISTIK
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Konseling Sufistik
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. M. Amin Syukur M.A



Disusun oleh :
Muhammad syarif arifin (134411035)

FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
WALISONGO SEMARANG
2016


I.                   LATAR BELAKANG


   Keseimbangan hidup yang di ajarkan dalam islam adalah keseimbangan, antara dunia dan akhirat, maka disini juga akan dibahas bagaimana bentuk metode konseling yang akan di jabarkan dalam makalah ini, dikarenakan problema hidup dalam kehidupan masyarakat sangat bergam. Kehidupan dalam masyarakat yang beragam tersebut akan sangat menganggu bagi yang bersangkutan, dalam hal tersebutlah bentuk metode konseling di perlukan untuk dapat mengolah, menggali, mengetahui, apa yang membuat masyarakat itu terganggu dalam proses kehidupannya. Dalam kehidupan sehari hari,seiring dengan penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, dan dalam hubungan saling pengaruh antara orang satu dan yang lainnya. Bimbingan dapat terjadi setiap kalinya, semisalnya seperti oramg tua membimbing anak, guru membimbing muridnya, serta ketua warga dapat mengajak warganya dengan bimbingan melalui rapat, diskusi dan instruksi.[1]
Media susfistik bukan sekedar teori, tetapi juga bersifat praktis. Para sufi juga sudah membuat rumusan tatacara menerapi jiwa, menjelaskan kepada pasien untuk menuju kesempurnaan jiwa.[2] Dari semuanya itu fenomena tersebut yaitu metode penyembuhan secara tasawuf dimana yang paling di tekankan adalah metode dzikir, karena disini metode dzikir ini untuk cara penyembuhan dalam keseluruhan penyakit, berbagai ritual dari tasawuf ini secara psikologis ternyata bisa diajdikan sebagai bentuk psikoterapi, karena didasarkan pada metode psikoterapi transpersonal. Karena di dalam metode psikoterapi diakatakan sebagai pusat orbit dari sufi healing. Maka shalat puasa, do’a dan seterusnya merupakan obat yang mujarab bagi berbagai penyakit yang ada[3].
Sufi healing dianggap sebagai penyembuhan yang paling aktif, sebab para sufi menarik akr kesdaran dari dalam diri manusia akan keberadaan dirinya sebagai metode pengobatanya. Hal ini dapat dipahami karena tasawuf ketika dihububungkan dengan kesehatan maka garis hubunganya akan tampak jelas bersinggungan sebagai dua hal yang saling mendukung. Para ilmuan barat membuktikan hubungan tersebut dengan berbagai macam penelitian, yang hasilny sangat mengejutkan mereka berkesimpulan bahwa komitmen agama (dalam arti intensitas menjalankan ritual, keagamaan, baik dzikir, maupun do’a), kana dapat mencegah datangnya penyakit[4].
Secara ilmiah dapat dibuktikan pula dari sebuah penelitian yang sudah dilakukan bahwa dalam darah sudah ditemukan suatu protein yang diberi nama Interluekin 6 (IL-6) protein ini berfungsi sebagai sistem imun manusia. Dan juga banyak penlitian juga sudah dilakukan bahwa kertika protein Interleukin ini, yan terdapat dalam diri manusia bisa ditingkatkan. Cara peningkatannya yaitu dengan melakukan hal – hal yang bersifta keagamaan.

II.                RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari konseling sufistik ?
2.      Apa yang dimaksud  konseling perseorangan ?
3.      Apa yang dimaksud konseling kelompok ?









III.             PEMBAHASAN
1.      Pengertian Konseling Sufistik

   
     download


 PERHATIAN download hilangkan centang ( ~) pada kata fast download.

#makalah #tasawuf #psikologi #islam #kebuidayaan #peradaban

Wednesday, 23 March 2016

PENDIDIKAN KARATER



PENDIDIKAN KARATER
Disusun Guna Menuhi Tugas
Mata Kuliah: Pendidikan Kewarganegaraan
Dosen Pengampu:

Description: H:\images.jpg

Disusun oleh:
Hanni’ Nailatus Syharifah (134111051)


Fakultas Ushuludin
Institut Agama Islam Negeri Walisongo
2014




BAB I
Pendahuluan
1.    Latar Belakang masalah
Penguatan pendidikan moral atau pendidikan karakter dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.
Description: Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli
Gambar: Keterkaitan antara komponen moral dalam rangka pembentukan 
2.    Rumusan masalah
1)      Apa pengertian pendidikan karakter?
2)      Bagaimana cara membentuk karakter?
3)       
BAB II
Pembahasan
A.  Pengertian pendidikan karakter
1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.
3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
B.  Cara membentuk karakter
Yang di maksud karakter disini bukanlah karakter individu, melainkan karakter Bangsa. Menciptakan karakter dalam suatu bangsa bukanlah hal yang mudah. Namun, tidak sulit pula. Berikut salah satu siasat yang dapat di lakukan sebagai pendidikan karakter:
·         Menentukan pasangan yang tepat,
·         pemahaman atas tugas, kewajiban dan peran sebagai orang tua,
·         kecukupan gizi,
·         memberikan pendidikan yang tepat dan sesuai,
·          
 #makalah #pendidikan karakter #filsafat #psikologi #thariqah #tasawuf #menulis




Sunday, 6 March 2016

MAKALAH META KECERDASAN DALAM PSIKOLOGI SUFISTIK



Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Psikologi Sufistik
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Abdullah Hadziq, M. A




Disusun Oleh:
        NAMA : M. MAHMUD ABADI
    NIM     : 104411056


FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2012
META KECERDASAN DALAM PSIKOLOGI SUFISTIK

I.       PENDAHULUAN
Kecerdasan adalah sebuah kekuatan yang bersifat non material dan bukan spiritual. Ia sangat diperlukan oleh manusia dan sejumlah makhluk lainya guna dijadikan sebagai alat bantu di dalam menjalani kehidupannya di alam dunia. Kecerdasan itu dapat terbentuk melalui penyentuan, pemolesan sampai dengan perekayasaan oleh sistem-sistem yang memang selaras untuk hal tersebut. Sebab, pada awalnya kecerdasan memerlukan sebuah potensi yang tersembunyi; tersimpan pada sejumlah unsure perangkat yang ada pada diri manusia. Salah satu yang memiliki kemampuan untuk dapat melakukan pemberdayaan dan menjadikan bermanfaatnya kecerdasan yang ada pada diri manusia adalah Al-Quran Al-Karim.
Sebagai salah satu dari dua sumber rujukan yang dibutuhkan di dalam mengembangkan tingkat kemampuan individu, Al-Quran dianggap-oleh sebagian orang-tidak emiliki pengaruh apa pun untuk membentuk kecerdasan yang ada pada diri manusia. Memang tidak banyak orang yang mampu melihat dan dapat menggunakan Al-Quran sebagai kekuatan pemicu, penuntun, dan penjaminan kecerdasan yang ada pada diri manusia.[1]
Oleh karena itu di sini akan dibahas makalah tentang “Meta Kecerdasan dalam Psikologi Sufistik” dalam matakuliah Psikologi Sufistik.
II.    RUMUSAN MASALAH
A.    Hakikat Meta Kecerdasan
B.     Implikasi Meta Kecerdasan Bagi Prilaku Psikologis
III. PEMBAHASAN
A.    Hakikat Meta Kecerdasan
Setelah memetakan tiga paradigma kecerdasan, yakni kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), berikutnya akan coba dibahas konstruksi atau pola relasi diantara ketiganya. Pola relasi ini mengandaikan terjadinya relasi positif antara IQ, EQ dan SQ, meskipun tetap mengakui adanya diferensiasi.
Sadar atau tidak, potensi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual itu ada dalam keseluruhan diri kita sebagai manusia. Kecerdasan intelektual mencakup unsur logis (matematika) dan linguistik (verbal atau bahasa). Kecerdasan emotional mencangkup unsur interpersonal dan intrapersonal. Sementara kecerdasan spiritual adalah bagaimana mengkhayati dan mengabdikan diri –beribadah- kepada Khalik (Sang Pencipta).[2]
Kita akan melihat bahwa antara kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan Intelektual (IQ) sangat berkaitan erat satu dengan yang lain. Apabila kita berorientasi pada “Tauhid”, maka hasilnya adalah EQ, IQ dan SQ yang terintegrasi, pada saat masalah datang akar radar hati bereaksi menangkap signal. Karena berorientasi pada materialisme, maka emosi yang di hasilkan adalah yang tidak terkendali, sehingga menghasilkan sikap-sikap sebagai berikut: marah, sedih, kesal dan takut. Akibat emosi yang tak terkendali, God Spot menjadi terbelunggu atau suara hati tidak memiliki peluang untuk muncul.  Bisikan suara hati Ilahiyah yang bersifat mulia tidak lagi bisa didengar dan menjadi tidak berfungsi, ini mengakibatkan Ia tak mampu berkolaborasi dengan piranti kecerdasan yang lain. Karena suara hati tertutup, maka yang paling memegang peranan adalah emosi. Emosional yang memberi perintah kepada sektor kecerdasan intelektual IQ. IQ akan menghitung, tetapi berdasarkan dorongan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, iri hati, dan kedengkian. Bayangkanlah apa yang akan terjadi kemudian![3]
Tingkatan IQ atau kecerdasan intelektual atau kecerdasan otak seseorang umumnya tetap, sedangkan EQ (kecerdasan emosi) dapat terus di tingkatkan. Hal ini didukung oleh pendapat seorang pakar EQ, Daniel Goleman sebagai berikut: Dalam peningkatan inilah kecerdasan emosi sangat berbeda dengan IQ, yang umumnya hamper tidak berubah selama kita hidup. Bila kemampuan murni kognitif relative tidak berubah, maka sesungguhnya kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja. Tidak peduli apakah orang tersebut tidak peka, pemalu, pemarah. Kikuk, atau sulit bergaul dengan orang lain sekalipun, dengan motivasi dan usaha yang benar kita mampu mempelajari serta menguasai kecakapan emosi tersebut. Tetapi bagaimana?[4]
Dalam perspektif neuroscience Ketiga bentuk kecerdasan ini (IQ, EQ, dan SQ), mempunyai akar-akar neurobiologis di otak manusia. Fakta menyatakan bahwa otak menyediakan komponen anatomisnya untuk aspek rasional (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Ini artinya secara kodrati, manusia telah disiapkan dengan tiga aspek tersebut. Kecerdasan emosional ada di sistem limbik, alias otak dalam, yang terdiri dari thalamus, hypothalamus dan hippocampus. Kecerdasan intelektual ada di korteks serebrum atau otak besar. Sedangkan kecerdasan spiritual mempunyai dasar neurofisiologis pada osilasi frekuensi gamma 40 Hertz yang bersumber pada integrasi sensasi-sensasi menjadi persepsi obyek-obyek dalam pikiran manusia.
Dalam perspektif Islam, dikenal istilah aql, qalb dan fuad sebagai pusat IQ , EQ dan SQ menunjukkan bahwa Islam memberikan apresiasi yang sama terhadap ketiga sistem kecerdasan tersebut. Hubungan ketiganya dapat dikatakan saling membutuhkan dan melengkapi. Namun kalau akan dibedakan, maka SQ merupakan "Prima Causa" dari IQ dan EQ. SQ mengajarkan interaksi manusia dengan al-Khaliq, sementara IQ dan EQ mengajarkan interaksi manusia dengan dirinya dan alam di sekitarnya. Tanpa ketiganya bekerja proporsional, maka manusia tidak akan dapat menggapai statusnya sebagai "Khalifah" di muka bumi. Oleh karena Islam memberikan penekanan yang sama terhadap "hablun min Allāh" dan "hablun min al-nās", maka dapat diyakini bahwa keseimbangan IQ, EQ dan SQ merupakan substansi dari ajaran Islam. Penggabungan ketiga hal ini akan menghasilkan manusia-manusia paripurna yang siap menghadapi hidup dan menghasilkan efek kesuksesan atas apa yang dilakukannya.
IQ, EQ & SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tidak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan. mengabaikan salah satu dari ketiga bentuk kecerdasan berbasis neuroscience di atas adalah sesuatu kekeliruan, demikian juga jika mengagungkan salah satu diantaranya merupakan kesalahan. Pentingnya keseimbangan ketiga kecerdasan ini untuk menjadi seorang yang paripurna.
Penggabungan antara kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual dalam berbagai hal akan melahirkan “idealisme” dalam diri yang dalam konstektualnya lebih benyak membentuk wilayah-wilayah individual (catra pribadi). Sedangkan penggabungan antara ketiga kecerdasan tersebut yakni intelektual-spiritual dan emosional memunculkan tipe-tipe kecerdasan baru hingga pencapaian kecerdasan dialektis.[5]
99Q (“99” Quotient) merupakan sebuah istilah yang diilhami oleh 99 nama Allah yang mulia (al-asmaa’ al-husnaa). 99Q bisa disebut 99 Qalbu. Kerangka teoritik dalam menggagas 99Q ini adalah bahwa dalam diri manusia ada 99 potensi kecerdasan dan kemampuan yang merupakan manifestasi dari 99 nama Allah. Tetapi sangat disayangkan tidak banyak orang yang mempergunakannya.[6]
Dalam sebuah hadits Nabi Saw. Disebutkan, “ Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan citra-Nya,” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini mengindikasikan bahwa dalam diri manusia ada potensi Ilahiyah, karena ruh manusia-sebagaimana disebutkan Al-Quran-adalah bagian dari “Ruh Tuhan” (QS Al-Hijr [15]: 29).[7]
B.     Implikasi Meta Kecerdasan Bagi Prilaku Psikologis
Sebuah implikasi yang di tujukan Al-Quran dalam meta kecerdasan bagi prilaku psikologis untuk umat manusia adalah rangsangan untuk melekukan hal-hal yang berkaitan dengan dapat terbentuknya kecerdasan, yaitu:
a.    Agar menjadi penuntut ilmu.
“Dituturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni Al-Qur’an dalam bahasa Arab untuk kaum yang menuntut ilmu,”(QS Fushshilat [41]:2-3)
b.    Agar menggunakan akal.
“Ini adalah ayat-ayat Al-Kitab (Al-Quran) yang nyata. Sesungguhnya Kami enurunkan kepadanya Al-Quran berbahasa Arab, agar kamu semua menggunakan akal,”(QS Yusuf [12]:1-2).
c.    Untuk ditafakuri.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka menafakuri,” (QS Al-Nahl [16]: 44).
d.   Meraih kedudukan Hamba Allah Swt, yang disucikan.
“Seandainya pada sisi kami ada sebuah kitab dari para pendahulu, bener-benar kami akan menjadi hamba Allah yang disucikan,” (QS Al-Shaffat [37]: 168-169).[8]




IV. KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah di atas kami dapat menyimpulkan bahwa Meta Kecerdasan dalam Psikologi Sufistik yaitu Meta kecerdasan adalah konsep kecerdasan dengan perspektif majemuk. Kecerdasan tidak hanya ditakar dari kecerdasan intelektualnya IQ) saja, tetapi bahwa manusia ternyata juga memiliki potensi kecerdasan lain yang bahkan lebih penting yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Kecerdasan intelektual (IQ) adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Sedangkan Kecerdasan emosi (EQ) merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir; berempati dan berdo’a. Adapun Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas.
IQ, EQ & SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconected) di dalam diri kita, sehingga tidak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi, karena ia bisa menjembatani dan lebih memfungsikan dua kecerdasan lain yaitu IQ dan EQ secara lebih efektif. Hubungan ketiganya dapat dikatakan saling membutuhkan dan melengkapi. Namun jika hendak dibedakan, maka SQ merupakan prima causa dari IQ dan EQ. Kecerdasan spiritual mengajarkan interaksi manusia dengan al-Khaliq, sementara IQ dan EQ mengajarkan interaksi manusia dengan dirinya dan alam sekitarnya.

V.    PENUTUP
Demikian makalah yang membahas tentang Meta Kecerdasan Dalam Psikologi Sufistik, dari pemakalah menyarankan bahwa kita seharusnya mampu mengamalkan apa yang telah dijelaskan pada ringkasan makalah di atas, dan semoga kita mampu menerapkan atau mengimplikasikan di dalam kehidupan maupun perilaku psikologis kita. Dan demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari makalah ini kurang dari kesempurnaan, maka kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. Dan semoga ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat. Aamiin.....



DAFTAR PUSTAKA
Alim, meta-kecerdasan-integrasi-kecerdasan, http://alim-online.blogspot.com/2010/05/meta-kecerdasan-integrasi-kecerdasan.html, Selasa, 29 Mei 2012, 00.45 WIB.
Djarot Sensa, Muhammad, Quranic Quotient, Jakarta: Hikmah, 2005.
Ginanjar Agustian,  Ary, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ POWER, Jakarta: ARGA,  2003.
Ginanjar Agustian, Ary, ESQ, THE ESQ WAY 165, 1 Ihsan 6 Rukun Iman 5 Rukun Islam, Jakarta: ARGA, 2005.
Sulaiman Al-Kumayi, 99Q, kecerdasan 99,  Bandung: Hikmah, 2003.


[1] Muhammad, Djarot Sensa, Quranic Quotient, Jakarta: Hikmah, 2005. h. 1-3.
[2]Alim, meta-kecerdasan-integrasi-kecerdasan, http://alim-online.blogspot.com/2010/05/meta-kecerdasan-integrasi-kecerdasan.html, Selasa, 29 Mei 2012, 00.45 WIB.
[3] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ POWER, Jakarta: ARGA,  2003. H. 217.
[4] Ary Ginanjar Agustian, ESQ, THE ESQ WAY 165, 1 Ihsan 6 Rukun Iman 5 Rukun Islam, Jakarta: ARGA, 2005. h. 280.
[5] Alim, meta-kecerdasan-integrasi-kecerdasan, http://alim-online.blogspot.com/2010/05/meta-kecerdasan-integrasi-kecerdasan.html, Selasa, 29 Mei 2012, 00.45 WIB.
[6] Sulaiman Al-Kumayi, 99Q, kecerdasan 99,  Bandung: Hikmah, 2003. h. xii.
[7] Ibid. h. xii
[8] Muhammad, Djarot Sensa, Quranic Quotient, Jakarta: Hikmah, 2005. h. 21.