Our social:

Latest Post

Showing posts with label psikoterapi. Show all posts
Showing posts with label psikoterapi. Show all posts

Thursday, 10 March 2016

MODUL TERAPI DZIKIR NAFAS

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Psikoterapi
Dosen Pengampu: Wisnu Buntaran, S. Psi





Disusun Oleh:
        NAMA : M. MAHMUD ABADI
    NIM     : 104411056


FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2012
I.        IDENTIFIKASI
Dalam modul ini kami akan menjelaskan mengenai sebuah terapi dzikir nafas yang bertujuan untuk mengajak kita semua untuk mengadakan proses penyelamatan terhadap atribut-atribut sakral Islam. Yang dimaksud atribut-atribut sakral tersebut adalah simbol-simbol agama Islam yang dilecehkan, seperti: takbiran hari raya sudah di-remix dengan irama disko, pawai takbiran diikuti seperti halnya pawai lainnya, tasbih digantung-gantung dileher anak-anak zaman sekarang sebagai trend, surban dikalung-kalung bukan lagi oleh kiyai, tetapi anak-anak remaja yang masuk ke diskotik juga pakai. Para pembawa acara, pelawak dan sebagainya menggunakan songkok secara miring, dengan rambut acak-acakan, seolah songkok merupakan bahan humor yang efektif. Para politikus menjual-jual Firman dan Hadist demi kepentingan duniawi pribadi.  Kedepan nanti, tidak menutupi kemungkinan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah juga menjadi bahan humor. Hal ini sangat mendegradasi posisi “mengingat Allah” dari posisi sakral ke posisi main-main. Dengan permasalahan sedemikianlah modul terapi dzikir nafas ini akan dijelaskan di bawah ini.

II.        MATERI TERAPI DZIKIR NAFAS
A.    PENDAHULUAN
Nafas diartikan sebagai udara yang keluar dan masuk dalam tubuh manusia, untuk memompa darah dan membuat manusia dapat bertahan hidup. Nafas juga dapat diartikan sebagai nyawa atau jiwa. Kami lebih cenderung mengartikan nafas dengan pengertian yang kedua. Lebih kritis lagi, nafas adalah “tali” yang mengikat jasad dan ruh sehingga keduanya dapat bersatu.  Jika nafas terputus maka ruh dan jasad akan terpisah dan pemiliknya dinyatakan almarhum.
Allah menyempurnakan manusia dengan “meniupkan” ruh ke dalam jasad. Kata “tiup” sangat erat kaitannya dengan “nafas”, memberikan gambaran bahwa Allah menggunakan “nafasNya” untuk mengikat atau menyatukan jasad dan ruh kita. Ilustrasi ini kemudian meyakinkan kita bahwa nafas bukanlah suatu pemberian yang sama dengan pemberian lain. Manusia dapat saja tidak makan dan minum selama berhari-hari dan tidak mati. Tetapi manusia tidak dapat meninggalkan aktifitas bernafasnya meskipun 10 menit saja. Artinya, nafas memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Para sufi membagi dzikir kedalam tiga jenis: dzikir lisan (dilakukan oleh lidah), dzikir khofy (dilakukan oleh hati) dan dzikir nafas (diikuti dengan nafas). Sebagian sufi yang lain melengkapinya dengan dzikir sirri, dzikir yang dirahasiakan dan dzikir fi’li yaitu dzikir yang dilakukan dengan perbuatan.
Dzikir Nafas adalah proses dzikir yang diikuti dengan irama naik-turun nafas kita. Kebanyakan para sufi dan wali menamakannya dzikir nafas karena mereka yakin bahwa setiap unsur diri kita harus melakukan dzikir. Sehingga dzikir tidak hanya dilakukan oleh lisan dan qalb (dzikir qauliah dan qalbiyah), tetapi nafas juga harus melakukan dzikir, otak juga melakukan dzikir, mata, telinga, tangan dan kaki, semuanya harus melaksanakan dzikir. Tetapi di dalam modul ini tidak mungkin membahasnya semua, yang akan dibahas adalah dzikir nafas saja.
Sebagaimana firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang ” (Al-Ahzaab:41-42).
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai
Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada disisi (Allah) (Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkanNya dan hanya kepadaNyalah mereka bersujud”.
(Al-A’raf ayat 205-206)
 Manfaat dzikir nafas ini sangat besar.
·         Dalam praktik muraqabah, nafas diyakini sebagai jalan menuju konsentrasi terhadap makna dzikir.
·         Dzikir nafas bermanfaat demi ketenangan batin, keluasan dada dan pencerahan pikiran.
·         Dzikir jika diikuti dengan nafas maka dzikir tersebut akan mengalir di seluruh aliran darah dan di setiap detak jantung.  Membuat kita berkekalan dengan dzikrullah.
·         dzikir nafas juga membangkitkan energi murni (inner power) yang bermanfaat untuk pengobatan dan perlindungan.
·         dzikir nafas juga berimbas pada pengendalian emosi yang lebih positif dan pengendalian hawa nafsu.
·         meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga pikiran tetap konsen, membuat tubuh menjadi tegak dan lebih peraya diri dan tangguh dalam menghadapi musuh-musuh Islam.

B.     PROSES TERAPI DZIKIR NAFAS
Bagaimana Dzikir dan Nafas Berkolaborasi
Dzikir nafas adalah perpaduan atau kolaborasi antara nafas dan dzikrullah. Merasukkan, menancapkan, mengalirkan dzikrullah keseluruh sendi dan pembuluh darah, ke relung-relung dada, memalung hati dan menegasikan hal yang bukan Allah dari dalam hati. Caranya sangat banyak, tetapi hanya beberapa saja yang akan kami paparkan disini. Peringatan penting, bahwa sesungguhnya La Haula Wala Quwwata Illa Billah!!!!, jangan melaksanakan praktik seperti ini dengan niat selain Allah!!!!. Ingatan senantiasa harsu tertuju pada Allah. Langkah-langkah dibawah ini adalah disiplin demi keteraturan jalan menuju berkekalan dengan dzikrullah. Wallahu a’lam bishshawab.
·         Langkah I “Memenuhi dada dengan nama Allah”:
Pastikan saat ini anda sedang dalam keadaan wudhu. Pertama-tama, harus dipahami bahwa setiap ucapan senantiasa diikuti oleh nafas. Tak ada suara jika tak ada nafas bukan? Disinilah kita tidak menyia-nyiakan nafas dengan mengeluarkan suara yang sia-sia juga. Saat kita sedang tidak berbincang dengan orang, maka hendaknya setiap tarikan nafas (dari hidung) kita sertakan “Bismillahirrahmanirrahim…” dengan durasi tahan selama dua detik kita ucapkan “Allah… Allah…”. Setelah itu hembuskan nafas tanpa mengucapkan atau menyertakan apapun. Arti dari perlakuan tadi adalah memasukkan nama Allah ke dalam dada dan menetapkan (isbat) nama Allah disana dan menghembuskan selain Allah (ghairullah) dari dalam diri. Jika ini kamu lakukan minimal 10x dalam sehari saja, kamu dapat merasakan bagaimana pengaruh positifnya, selain nafas kamu terlatih untuk teratur kamu juga merasakan bahwa Allah akan selalu dalam hatimu. Menjelang tidur juga dapat kamu lakukan, akhirnya kamu dapat membiasakan setiap hirupan nafas dengan nama Allah. Jika ini sudah terbiasa dilakukan, maka kamu bisa beralih ke langkah selanjutnya. Wallahu a’lam bishshawab.
·         Langkah II “Menegasikan selain Allah dari dalam dada”:
Langkah kedua ini anda akan berlatih bagaimana membersihkan dada dari yang selain Allah. Artinya, segala yang menjauhkan anda dari ingatan kepada Allah akan anda negasikan (tolak), sehingga hanya segala sesuatu yang jika Allah ada sebelum, beserta dan sesudahnya saja yang boleh bercokol dalam dadamu. Jika pada langkah pertama kita gunakan Basmalah dan Ismuzzat, maka yang kedua ini kita akan gunakan dzikir Nafi-Isbat atau lazim disebut Tahlil (La ilaha illallah). Jika langkah pertama dapat anda lakukan dimana saja dan kapan saja, langkah kedua ini lebih disarankan untuk dilakukan disaat anda tafakkur (ittikaf), menjelang tidur juga diperbolehkan. Caranya adalah menyertakan “La ilaha….” Pada saat menarik nafas dan menyertakan “Illallah…” pada saat menghembuskannya. Maknanya adalah bahwa anda menafikan (meniadakan) tuhan-tuhan dan mengisbatkan (menetapkan) Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Perbiasakanlah berdzikir dengan cara ini, agar dzikir benar-benar mendarah-daging di dalam diri, sehingga insya Allah tidak ada perilaku yang bertentangan dengan dzikir. Cara pertama dan kedua ini akan dengan sendirinya mengakar dalam diri anda, sehingga setiap anda mengucapkan Bismillah maka nafasmu pun menarik bismillah itu kedalam dadamu, begitu juga dengan la ilaha illallah, sehingga berkekalanlah anda dengan dzikrullah. Jika hal ini sudah terbiasa, maka kamu bisa melangkah ke langkah selanjutnya. Wallahu a’lam bishshawab.
·         Langkah III “Membangkitkan energi murni”:
Kini anda memasuki suatu wilayah khusus yang tidak boleh anda lakukan di sembarang tempat dan sembarang waktu. Jika kamu seorang pekerja, maka lakukanlah disaat anda sedang libur atau sesudah tahajjud. Dalam keadaan bersila ucapkanlah dzikir nafi-isbat dengan irama nafas sebagai berikut:  1x dzikir penuh (la ilaha illallah) saat menarik nafas, 3x dzikir penuh (la ilaha illallah, la ilaha illallah, la ilaha illallah) saat durasi tahan, dan 1x dzikir penuh (la ilaha illallah) saat menghembuskannya. Energi murni yang terhimpun tidaklah anda sadari, dan tidak perlu anda sadari. Anda dapat merasakannya kelak, misalnya daya tahan tubuh anda meningkat, kekuatan fisik anda bertambah, pikiran lebih konsen, hati semakin tenang dan menjadi lebih peka terhadap berbagai kemungkinan.   Ingatlah… ingatan harus senantiasa tertuju pada Allah yang menganugrahkan nafas kepadamu. Lakukanlah hingga anda merasa cukup. Hingga terbiasa, dalam keseharianmu, tiada nafas tanpa dzikrullah. Wallahu a’lam bishshawab.
·         Langkah IV “Menetapkan Hati”:
Saatnya kini menetapkan hati. Jika hati kita tidak ditetapkan, maka percuma saja semua riyadhah diatas. Cara menetapkan hati ini adalah dengan cara senantiasa mengucapkan dzikir ismuzzat (Allah… Allah… Allah…) di setiap tarikan nafas, durasi tahan dan saat menghembuskan nafas. Upayakan saat mengucapkannya lidah tidak bergerak, hal ini melatih hati untuk mengingat Allah tanpa adanya campur tangan lidah. Ada saatnya lidah mengucapkannya, tetapi saat lidah mengucapkan dzikir, 75 % hati tidak mengucapkannya, iya kan? Wallahu a’lam bishshawab.
Jika langkah-langkah di atas kita ikuti, maka akan terasa pengaruh positifnya sebagaimana yang sudah kami sampaikan sebelumnya. Tentunya hal ini tidak memerlukan waktu yang sebentar, butuh waktu untuk membentuk diri berkekalan dengan dzikir di setiap hembusan nafas. Selain itu, butuh niat dan tekad yang bulat serta kesungguhan dan kesabaran untuk melatih diri. Ini merupakan proses riyadhah (latihan jiwa), aktifitas fisik tidak lain hanyalah manifestasi saja, cerminan saja. Wallahu a’lam bishshawab.

III.        EVALUASI
Integrasi dalam Shalat:
Ini bukan menambah-nambahkan unsur shalat. Kita hanya mengatur nafas kita saat kita shalat, agar shalat kita tidak tergesa-gesa, lebih tenang demi mencapai tuma’ninah dan muthmainnah saja. Kan, tidak mungkin kita shalat tanpa bernafas kan? Sesungguhnya yang dimaksud dengan integrasi dalam shalat adalah bagaimana kita membuat bacaan dalam shalat kita menjadi lebih tenang dan insyal Allah khusyu. Anda mungkin bertanya-tanya, apakah dengan mengatur nafas maka shalat kita menjadi khusyu? Tentu saja iya. Dengan bernafas teratur maka kita akan menjadi lebi tenang, dan ketenangan lah yang dibutuhkan dalam shalat, bukan hilang ingatan atau kekosongan pikiran yang disebut-sebut oleh praktisi ghaib gadungan. Yang disebut dengan khusyu adalah “keterarahan” dan anda hanya bisa terarah jika anda teratur. Seperti saat memanah, sang pemanah akan mengajarimu agar “tidak bernafas” agar tubuhmu tidak goyang. Dalam kasus ini, pengaturan nafas (bukan tidak bernafas)yang bersesuaian dengan bacaan dan gerakan shalat untuk membuat kita lebih terarah pada niat kita yang “lillahi ta’ala” sebagai tujuan kita. Wallahu a’lam bishshawab.
Cara untuk mengintegrasikannya adalah sebagai berikut:
1.      Mengucapkan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan sambil menghirup nafas secara perlahan. Setelah takbiratul ihram sempurna, barulah menghembuskannya kembali secara perlahan dan jangan tergesa-gesa.
2.      Membaca suratul Fatihah dengan nafas yang teratur, dan ingatlah untuk tidak menarik nafas di saat mengucapkan kalimat terakhir surat alfatihah (ghairil maghduubi alaihim walad dhaallin…) karena kita tidak menghendaki sifat-sifat dhalalah (tercela) merasuk dalam dada kita yang sudah kita masukkan nama Allah.
3.      Mengucapkan dua kalimah syahadat saat tasyhadud awal dan akhir dengan cara: menark nafas saat mengucapkan “Asyhadu alla ilaha….” Dan menghembuskan nafas dengan mengucapkan “Illallah…” lalu dilanjutkan dengan “Waasyhadu anna Muhammadurrasulullah…”. Dan yang terakhir.
4.      Saat salam kanan, tariklah nafas dengan mengucapkan Alhamdulillah sebagai wujud syukur kepada setiap nikmat Allah… dan hembuskanlah nafas saat salam kiri seraya mengucapkan Astagfirullah sebagai wujud penyesalan kita terhadap dosa kita, dan sebagai proses negasi terhadap sifat tercela.
Demikianlah cara untuk mengintegrasikan dzikir nafas ini di dalam shalat kita. Agar shalat menjadi lebih bermakna, banyak orang yang melakukan shalat, namun mereka tidak memetik buah dari shalat itu. Karena shalat baginya hanya menjadi bagian dari kewajiban, shalat tidak terintegrasi dengan nafasnya, dengan jiwanya. Shalat harus terintegrasi dengan jiwa, merasuk dalam dada dan menjadi kebutuhan diri. Wallahu a’lam bishshawab.

Sunday, 6 March 2016

MAKALAH PSYCHODYNAMIC PSYCHOTHERAPY


Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Psikiatri
Dosen Pengampu: Wisnu Buntaran, S. Psi


Disusun Oleh:
RATYH SURYANI (104411060)

FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2012
I.            PENDAHULUAN
Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini.
Pemahanan freud tentang kepribadian manusia didasarkan pada pengalaman-pengalaman dengan pasiennya, analisis tentang mimpinya, dan bacaannya yang luas tentang beragam literature ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Pengalaman-pengalaman ini menyediakan data yang mendasar bagi evolusi teorinya. Baginya, teori mengikuti megikuti observasi, dan konsepnya tentang kepribadian terus mengalami revisi selama 50 tahun terakhir hidupnya.
Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Dia memberi nama aliran psikologi yang dia kembangkan sebagai psikoanalisis. Banyak pakar yang kemudian ikut memakai paradigma psikoanalisis untuk mengembangkan teori kepribadiannya, seperti : Carl Gustav Jung, Alfred Adler, serta tokoh-tokoh lain seperti Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, dan Harry Stack Sullivan. Teori psikodinamika berkembang cepat dan luas karena masyarakat luas terbiasa memandang gangguan tingkah laku sebagai penyakit (Alwisol, 2005 : 3-4).

II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Psikodinamik Psikoterapi

III.            PEMBAHASAN
A.    Psikodinamik Psikoterapi
Sigmund Freud merupakan perumus teori pertama yang mengembangkan model psikologis dari perilaku abnormal. Beliau juga pertama kali mengembangkan model pskoterapi yang disebutnya psikoanalisis, untuk membantu oang-orang yang menderita akibat gangguan psikolois. Psikoanalisis merupakan teori psikodinamika yang pertama. Terapi psikodinamika membantu idividu untuk memperoleh insight mengenai, dan mengatasi konflik bawah sadar yang dipercaya merupakan akar dari perilaku abnormal. Freud merangkum tujuan dari psikoanalisis dengan mengatakan dimana ada id, seharusnya disitu juga ada ego. Tujuannya lebih pada menggantikan perilaku defensive dengan perilaku adaptif. Dengan demikian, klien dapat menemukan kepuasan tanpa memperoleh hukuman social atau menghukum diri sendiri.[1]
Metode utama yang digunakan Freud untuk mencapai tujuan ini adalah Asosiasi bebas, analisis mimpi, dan analisis hubungan  transference.
1.    Analisis bebas
Analisis bebas merupakan proses pengungkapan tanpa sensor dari pikiran-pikiran segera setelah pikiran masuk kebenak kita. Asosiasi bebas dipercaya secara bertahap akan menghancurkan pertahanan yang menghambat kesadaran tentang proses bawah sadar. Klien diminta untuk tidak menyaring atau menyensor pikiran, tetapi membiarkan pikiran mereka mengembara secara bebas. Psikoanalisis tidak meyakini bahwa proses asosiasi bebas benar-benar bebas. Meski asosiasi bebas dimulai dengan pembicaraan ringan, kompuls untuk mengungkapkan akhirnya mengarahkan klien untuk menyinkap materi yang lebih berarti.
2.    Analisis mimpi
Selama tidur, pertahanan ego melemah dan impuls yang tidak dapat diterima menemukan ekspresinya dalam mimpi. Karena pertahanan tidak seluruhnya dihapuskan, impuls mengambil bentuk yang disamarkan atau disimbolisasikan. Dalam teori psikoanalitik, mimpi memiliki dua tingkatan muatan, yaitu :
·         Muatan manifes
·         Muatan laten
Meskipun mimpi memiliki arti psikologis, seperti yang diyakini oleh Freud, masih belum ada acara independen untuk menentukan arti dari mimpi.
3.    Transference
Proses analisis dan penanganan hubungan transference dianggap komponen penting dalampsikoanaliss. Freud percaya bahwa hubungan transference memberikan alat untuk menghidupkan kembali koflik-konflik dengan orang tua pada masa kanak-kanak. Freud menyebut proses ini sebagai neurosis transference.  Neurosis ini harus dianalisis dan ditangani dengan berhasil agar klien dapat berhasil dalam psikoanalisis.[2]
Asumsi Dasar Tentang Manusia dalam Psikodinamika
Dikatakan psikodinamika, karena teori ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku berasal dari gerakan dan interaksi dalam pikiran manusia, kemudian pikiran merangsang perilaku dan keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
Perkembangan teori psikodinamika dalam lingkungan teori-teori pekerjaan sosial masih diterapkan secara generalis, hal ini dimungkinkan karena penerapannya masih berpatokan pada ajaran Freud tadi dengan mengarah kepada pengembangan psikoanalisis. Pendekatan psikodinamika terhadap psikologi berpusat pada proses-proses bawah sadar yang mempengaruhi prilaku. Teori psikodinamika yang paling terkenal adalah teori dari Freud, yaitu teori ”struktur” kepribadian, pertahanan ego, perkembangan  psikoseksual, dan teori mimpi.
Asumsi-asumsi penting psikologi psikodinamika adalah:
a.  Perilaku dan perasaan orang dewasa (termasuk masalah-masalah psikologis) berasal dari  pengalaman masa kecil.
b.  Hubungan antar manusia (terutama hubungan orangtua-anak) sangat penting dalam menentukan perasaan dan perilaku manusia.
c.  Perilaku dan perasaan sangat dipengaruhi oleh makna kejadian-kejadian dalam pikiran bawah sadar dan motif-motif bawah sadar.
d. Berlawanan dengan cabang-cabang lain dalam psikologi yang sangat menekankan penelitian sistematis dan ilmiah, psikologi psikodinamika mencari informasi melalui mimpi, gejala, tingkah laku yang tidak masuk akal, dan semua ucapan pasien selama terapi.[3]
Pengetahuan Bawah Sadar: Asosiasi Bebas dan Interpretasi Mimpi.
Dalam upaya awal mengubah perilaku, freud menggunakan metode yang disebut cathartic hypnosis (hipnosis kataris). Pendekatan yang dianut adalah simtom neurotis dapat hilang dengan cara menghilangkan emosi yang terbendung/terhalang. Frued tidak suka menggunakan hipnosis; karena tidak semua pasien dapat dihipnosis, maka seringkali hasilnya bersifat sementara, dan dia tidak mendapat banyak pengetahuan tentang fungsi mental. Perkembangan kedua dalam teknik tersebut adalah ”waking sugestion” (sugesti pembangkit). Di sini Frued meletakan tangannya di kepala pasien dan meyakinkan pasien tersebut bahwa dia dapat mengingat dan menghadapi pengalaman emosional masa lalu yang dikubur. Dengan bertambahnya ketertarikan kepada interpretasi mimpi, Freud fokus pada metode asosiasi bebas (free association) sebagai dasar psikoanalisis. Dalam metode ini pasien diminta melaporkan kepada analisa semua pikiran yang terlintas, tidak menunda melakukan pelaporan, tidak menyembunyikan sesuatu, tidak menghalangi sesuatu untuk muncul ke dalam kesadaran.
Mimpi merupakan “jalan tol” ke alam bawah sadar. Dengan metode asosiasi bebas analis dan pasien dapat melampaui konten yang dimanifestasikan dari mimpi tersebut dan masuk ke konten laten, ke makna tersembunyi yang mengekspresikan keinginan bawah sadar. Seperti simtom, mimpi, merupakan hasrat pemenuhan yang tersamarkan dan parsial. Dalam mimpi seseorang dapat memuaskan keinginan bermusuhan atau seksual dengan cara tersamar dan karena itu aman. Misalnya, ketimbang memimpikan membunuh, seseorang dapat memimpikan peperangan di mana figur tertentu terbunuh. Dalam kasus tersebut, keinginan bawah sadar tersebut paling tidak masih jelas, tetapi dalam kasus yang lain keinginan tersebut bisa menjadi lebih tersamarkan. Asosiasi bebas mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi.[4]
Dalam teknik asosiasi bebas, orang yang dianalisa membiarkan semua pemikirannya muncul tanpa halangan atau pemalsuan apapun. Idenya adalah membiarkan pemikiran seseorang mengalir bebas, untuk mengungkapkan asosiasi tersembunyi di antara ide-ide yang ada. Bagi freud, teknik asosiasi bebas bukan hanya metode perawatan tetapi juga metode ilmiah. Hal tersebut memberikan bukti utama bagi teori kepribadiannya.[5]
Karena mimpi adalah suatu produk psikis dan karena hidup psikis dianggapnya sebagai konflik antara daya-daya psikis, maka masuk akal saja, kalau Freud mulai dengan mengerti mimpi sebagai perwujudan suatu konflik. Pengandaian ini ternyata berhasil pula. Mimpi ternyata mempunyai struktur yang sama seperti gejala neurotis, sehingga dengan cara ini pun orang dapat mempelajari represi, pembentukan substansi dan mekanisme-mekanisme tak sadar lainnya. Dan dalam hal ini mimpi mempunya beberapa ciri yang lebih menguntungkan daripada gejala neurotis, karena mimpi terjadi dalam keadaan tidur; jadi, keadaan di mana si subjek ingin beristirahat dan aktivitas-aktivitasnya−psikis maupun fisis−sudah mencapai suatu taraf minimal. Dlam keadaan seperti itu represi menjadi semakin kendor dan apa yang direpresi dapat masuk dalam kesadaran. Dengan menyelidiki apa yang  menyibukan si subyek pada hari sebelumnya, analisa mimpi  dapat mengartikan mimpi sebagai keinginan tak sadar yang muncul dalam kesadaran. Mimpi itu tidak lain daripada perealisasian suatu keinginan.
Untuk menafsirkan mimpi, orang harus menelusuri proses terbentuknya mimpi dalam jurusan yang berlawanan. Dengan bertolak dari sisi yang terang, orang harus kembali ke pikiran-pikiran tersembunyi yang telah didistorsi oleh sensur. Setelah melewati berbagai distorsi, akhirnya orang dapat memperlihatkan keinginan yang diresepsi tetapi perlu dicatat lagi bahwa juga sesudah penafsiran, mimpi tetap memerlukan suatu produk ketidaksadaran dan harus diperlakukan demikian.[6]
Cara yang paling menguntungkan dalam mimpi adalah menangani mimpi adalah dengan melihatnya sebagai permainan metaforis atau drama yang tersingkap di depan mata kita. Dalam drama yang terencana dengan baik unsur setting adalah yang pertama kali diperkuat, baik didimensi fisik maupun didimensi psikologis; juga disarankan penciptaan mood  tertentu dan konflik-konflik yang mungkin terjadi dapat disinggung secara tidak langsung. Inilah yang disebut eksposisi. Kemudian krisis berkembang dan konflik muncul kepermukaan. Banyak kekuatan yang menggerakan yang disinggung dalam eksposisi dapat tampil maksimal dan kita memperoleh sajian drama yang menyingkap banyak hal. Kemudian sebagai prinsip umum, sebuah solusi diperkenalkan, terkadang dalam bentuk dari ketiadaan solusi, bahkan sebuah jalan buntu atau impasse. Dinamika-dinamika ini berlaku secara berimbang pada produk-produk bawah sadar apa pun, seperti mimpi-mimpi, fantasi-fantasi, dongeng-dongeng atau mitologi lainnya, tak peduli dalam media apa ia diekspresikan; jadi, gambaran-gambaran psikologis dan puisi tunduk pada proses yang sama (istilah Psikologis di sini ditekankan untuk membedakannya dari ekspresi artistik yang asli. Keduanya tidak saling mengeksklusifkan satu sama lain−seringkali dimungkinkan juga dan juga sah untuk memperlakukan materi yang sama dari sudut pandang artistik maupun psikologis sekaligus). [7]

IV.            KESIMPULAN
Dalam teknik asosiasi bebas, orang yang dianalisa membiarkan semua pemikirannya muncul tanpa halangan atau pemalsuan apapun. Dengan membiarkan pemikiran seseorang mengalir bebas, untuk mengungkapkan asosiasi tersembunyi di antara ide-ide yang ada. Metode asosiasi bebas (free association) ini pasien diminta melaporkan kepada analisa semua pikiran yang terlintas, tidak menunda melakukan pelaporan, tidak menyembunyikan sesuatu, tidak menghalangi sesuatu untuk muncul ke dalam kesadaran. Dan juga terdapat asumsi-asumsi penting dalam psikologi psikodinamik yaitu Perilaku dan perasaan orang dewasa, Hubungan antar manusia, perilaku dan perasaan sangat dipengaruhi oleh makna kejadian-kejadian dalam pikiran bawah sadar dan motif-motif bawah sadar, dan berlawanan dengan cabang-cabang lain dalam psikologi yang sangat menekankan penelitian sistematis dan ilmiah, psikologi psikodinamika mencari informasi melalui mimpi, gejala, tingkah laku yang tidak masuk akal, dan semua ucapan pasien selama terapi.
V.            PENUTUP
Berdasarkan uraian makalah di atas kami pemakalah mengharapkan apa yang sudah kita pahami mengenai psikodinamik psikoterapi akan menjadi suatu pengetahuan bagi kita. Di dalam makalah ini tentunya ada kesalahan dalam penulisan, kami dari pemakalah sangat membutuhkan kritik dan saran yang dapat membangun demi perbaikan dan pengembangan pada makalah ini, dan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita sekaligus bermanfaat dalam dunia akademik maupun dunia penerapan pngetahuan ini. Âmîîîn……
Daftar Pustaka

·         A. Pervin, Lawrence dkk., Psikologi Kepribadian: Teori dan Penelitian, Jakarta: Kencana, 2010.
·         Bertens, K., Memperkenalkan Psikoanalisis: Lima Ceramah, Jakarta: Gramedia, 1984.
·         Corsin, Raymond, Psikoterapi Dewasa Ini: Dari Psikoanalisis hingga Analisa Transaksional, Surabaya: Ikon Teralitera, 2003.
·         http://animenekoi.blogspot.com/2011/05/metode-metode-penanganan.html (Senin, 24-12-2012. jam 23:00)





[4] Lawrence A. Pervin, dkk., Psikologi Kepribadian: Teori dan Penelitian, Jakarta: Kencana, 2010, h. 131.
[5] Ibid, h. 75.
[6] K. Bertens, Memperkenalkan Psikoanalisis: Lima Ceramah, Jakarta: Gramedia, 1984, h. xxv-xxvi
[7] Raymond Corsin, Psikoterapi Dewasa Ini: Dari Psikoanalisis hingga Analisa Transaksional, Surabaya: Ikon Teralitera, 2003, h. 125-126