Our social:

Latest Post

Monday, 16 May 2016

Tafsiran Surat Menurut al-Qurthubi, Thabathaba’i, Hasbi ash-Shiddieqy, Sayyid Quthb dan Ibnu Katsir.

       I.            PENDAHULUAN
Al-quran adalah sumber hukum  bagi umat manusia selain hadist dalam menunjukkan bagaimana sikap kita dalam keseharian. Dalam memahami alquran tentunya semua orang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing, begitu juga seorang mufasir dalam menafsirkan al-quran sesuai dengan keahlian mereka dalam bidangnya tidak menutup kemungkinan tafsir tersebut akan condong kepada keahlian mufasir tersebut.
Dalam kesempatan ini pemakalah mencoba menjelaskan tafsir tentang ayat ibadah dalam surat al-baqarah: 62 dengan menggunakan berbagai macam tafsir diantarannya, tafsir al-qurthubi, al-mizan, madjid an-nur, fi dzilalil quran dan ibnu katsir dari berbagai macam tafsir tersebut banyak memiliki perbedaan dan berbagai macam pemikiran dalam memaknai ayat. Semoga menjadikan kita semua menambah wawasan baru dan bisa membuka cakrawala keilmuan agar selalu berkembang menjadi yang lebih baik.
    II.            POKOK PEMBAHASAN
A.    Asbab al-Nuzul Surat al-Baqarah: 62
B.     Tafsiran Surat Menurut al-Qurthubi, Thabathaba’i, Hasbi ash-Shiddieqy, Sayyid Quthb dan Ibnu Katsir


.
 III.            PEMBAHASAN

A.    Asbab al-Nuzul Surat al-Baqarah: 

versi lengkapnya silahkan di lihat di

lihat disini



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster






    V.            DAFTAR PUSTAKA
As-syuyuti,  Jalaluddin (Mustofa. H. a) . riwayat turunya ayat-ayat suci al-quran. 1993. Semarang: cv asy Syifa’.
Al-qurthubi, Syaikh Imam (Fathurrahman, Ahmad Hotib, Nashirul Haq). al-Jami’ Li Ahkaam al-Quran. 2010. Jakarta: Pustaka Azzam.
Thabathaba’I, Muhammad Husain Sayid (Ilyas Hasan). al-Mizan. 2010. Jakarta: Lentera.
Ash-siddoeqy, Tengku Muhammad Hasbi. Tafsir al-Quranul Madjid an-Nur jilid 1. 2011. Jakarta: Cakrawala Publishing.
Syahid,  Sayyid Quthb (As’ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyarahil, Muchotob Hamzah). Tafsir Fi Zhilalil Quran dibawah Naungan al-Quran jilid 1. 2000. Jakarta: Gema Insani Press.
Ar-rifa’I, Muhammad Nasib (Syihabuddin). Taisiru al-Aliyyul Qadir Li Ikhtishari Tafsir Ibnu Kasir jilid 1. 1999. Jakarta: Gema Insani Press.





[1] Jalaludin as-suyuti,lubabun nuquuli fii asbabin nuzuul(drs.h.a mustofa.riwayat turunya ayat-ayat suci al-quran).semarang:cv asyifa’.1993.h.85
[2] Syaih imam al-qurthubi’(fathurrahman,ahmad hotib,nashirul haq).al-jami’ li ahkaam al-quran.Jakarta:pustaka azzam.2010.h.940
[3] Sayid Muhammad Husain thabathaba’i(ilyas hasan).al-mizan.jakarta:lentera.2010.h.379
[4] Prof.dr.teungku Muhammad hasbi ash-shiddieqy.tafsir al-quranul madjid an-nur jilid 1. Jakarta:cakrawala publishing.2011.h.81
[5] Syahid sayyid quthb,(as’ad yasin,abdul aziz salim basyarahil,muchotob hamzah).tafsir fi zhilalil quran dibawah naungan al-quran jilid 1.jakarta:gema insani press.2000.h.131

Monday, 2 May 2016

HADIS TENTANG IMAN, ISLAM, IHSAN, DAN HARI KIAMAT

HADIS TENTANG IMAN, ISLAM, IHSAN, DAN HARI KIAMAT

MAKALAH
Di susun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Hadis
Dosen Pengampu :


Disusun oleh :
Ahmad Suyuti Ikhsan (1404036003)

PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG
Dalam agama islam memiliki tiga tingkatan yaitu islam, iman, dan ihsan. Tiap-tiap tingkatan memiliki rukun-rukun yang membangunya. Jika islam dan iman di sebut secara bersamaan, maka yang di sebut islam adalah amalan-amalan yang tampak dan mempunyai lima rukun. Sedangkan yang di maksud iman adalah amal-amal batin yang memiliki enam rukun. Dan jika keduanya berdiri sendiri-sendiri, maka masing-masing menyandang makna dan hukumnya sendiri. Begitu juga dengan hari kiamat, yang tercantum dalam rukun iman yang kelima (iman kepada hari akhir). Iman kepada hari akhir adalah percaya akan adanya hari akhir, hari akhir adalah hari berakhirnya kehidupan dunia. Pada saat itu baik dan buruknya perilaku seseorang akan di catat tergantung bagaimana kadar keimanan seseorang dalam hatinya. Orang yang benar-benar beriman adanya hari kiamat akan senantiasa menjaga agar perilaku baik dan berusaha menjahui hal-hal yang buruk. Begitu juga sebaliknya.

B.  RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini akan menjelaskan tentang iman, islam, ihsan, dan hari kiamat.

C.  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui apa itu iman
2.      Untuk mengetahui apa itu islam
3.      Untuk mengetahui apa itu ihsan
4.      Untuk mengetahui apa itu hari akhir (hari kiamat)

VERSI LENGKAPNYA SILAHKAN DI LIHAT DI


    LIHAT DISINI



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster






#makalah #hadits #tasawuf #psikoterapi #tugas #kuat 

abbasiyyah

1.PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Sepeninggal Hisyam bin Abd al-Malik, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah, tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi. Akhirnya pada tahun 750 M, daulah Bani Umayyah dapat digulingkan dan pemerintahan pun berpindah tangan kepada Bani Abbasiyah. Karena sifat masalah yang berkembang di bawah dinasti Umayyah terlalu arogan membuat Bani Abbasiyah mengadakan suatu revolusi, bukan hanya melakukan pergantian dinasti saja. Kemajuan-kemajuan telah dirasakan oleh kaum muslimin dalam masa ini, terlebih ketika kepemerintahan dipegang oleh khalifah Harun al-Rasyid, dan putranya al-Makmun.
Dalam zamannya tersebut, berbagai disiplin ilmu telah dilahirkan atas jasa beberapa tokoh intelektual muslim, kedokteran, filsafat, kimia, sejarah, dan geografi, misalnya.





B.     RUMUSAN MASALAH
Bagaimana masa keemasan Abbasiyah
Bagaimana masa kemunduran Abbasiyyah

C.     TUJUAN
Supaya bisa mengetahui bagaimana masa keemasan Abbasiyah
Supaya bisa mengetahui apa saja Faktor-faktor Kemunduran Abbasiyah





II.PEMBAHASAN

A. Masa Keemasan Bani Abbasiyah
Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan

LIHAT VERSI LENGKAPNYA DI 


DOWNLOAD DISINI



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster





DAFTAR PUSTAKA
Al-Maududi,Abul A’la, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Mizan, 2006.
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Thoha Putra, 2003.
Syalaby,A., Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1997.




[1]A. Syalaby, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1997, hlm. 2.
[2]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006, hlm. 50
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006, hlm. 52
[4]Badri Yatim, op.cit., hlm. 56.
[5]Ajid Thahir, op.cit., hlm. 54
[6] http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/sejarah/klb-manusia/1256/sebab-sebab-kemunduran-pemerintahan-bani-abbas-mas.html


#makalah #abbasiyah #sejarah #filsafat #peradaban #islam #unik #keislaman

ARTI, OBYEK, DAN PERAN FILSAFAT

ARTI, OBYEK, DAN PERAN FILSAFAT

MAKALAH
Di susun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Filsafat Umum
Dosen Pengampu :

Description: E:\Logo 3D UIN Walisongo - Copy.png

Disusun oleh :
Ahmad Suyuti Ikhsan (1404036003)

PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG


BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Filsafat adalah ilmu tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.


B.   RUMUSAN MASALAH
1.      Arti Filsafat
2.      Obyek Filsafat
3.      Peran Filsafa

C.   TUJUAN
1.      Dapat mengetahui arti atau pengertian Filsafat
2.      Dapat mengetahui obyek-obyek dalam Filsafat
3.      Dapat mengetahui peran Filsafat





BAB II
PEMBAHASAN

1.     PENGERTIAN FILSAFAT
Kata filsafat, dalam bahasa Arab di kenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa Inggris di kenal dengan istilah philosophy adalah berasal dari bahasa Yunani philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan, sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian, seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.[1] Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut filsuf. Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun.
Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama.Menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi: filsafat barat, filsafat timur, dan filsafat Timur Tengah. Sementara, menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen.[2]
Sedangkan kaum muslim mengambil kata filsafat dari orang Yunani. Lalu mereka memberi kata sighat (bentuk) Arab dan nuansa timur, serta menggunakan untuk mengartikan pengethuan rasional murni. Filsafat menurut pemakaian para filosof Muslim secara umum tidak merujuk pada suatu disiplin atau sains tertentu, ia meliputi semua sains rasional, bukan ilmu-ilmu yang di wahyukan atau di riwayatkan, seperti etimologi, sintaksis, sharaf, retorika, gaya bahasa, tafsir, sunnah, dan hukum. Oleh karena kata ini mempunyai arti yang umum, maka hanya seseorang yang memahami secara penuh semua sains rasional yang pada waktu itu termasuk teologi, matematika, ilmu-ilmu kealaman, politik, etika, dan ekonomi domestik yang dapat di sebut sebagai seorang filosof. Oleh karena itu, bisa di katakan menjadi seorang filosof adalah menjadi dunia pengetahuan, yang sama belaka dengan dunia obyektif.[3]




2.     OBJEK FILSAFAT
Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari sesuatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek, yang di bedakan menjadi dua, yaitu objek material dan objek formal.
A.    OBJEK MATERIAL FILSAFAT
Objek material adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu,. Objek Material juga adalah hal yang di selidiki, di pandang, atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek Material mencakup apa saja, baik hal-hal konkret ataupun hal yang abstrak.
Objek Material dari Filsafat ada beberapa istilah dari para cendekiawan, namun semua itu sebenarnya tidak ada yang bertentangan.
1.      Mohammad Noor Syam berpendapat,  Para ahli menerangkan bahwa objek filsafat itu dibedakan atas objek material atau objek material filsafat, segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, baik materiil konkret, psikis maupun nonmateriil abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional, spiritual, dan nilai-nilai. Dengan demikian, objek filsafat tidak terbatas’. (Mohammad Noor Syam, 1981, hlm. 12)

2.      Poedjawijatna berpendapat,  jadi, objek material filsafat ialah ada dan yang mungkin ada. Dapatkah dikatakan bahwa filsafat itu keseluruhan dari segala ilmu yang menyelidiki segala sesuatunya juga? Dapat dikatakan bahwa objek filsafat yang kami maksud adalah objek materialnya-sama dengan objek material dari ilmu seluruhnya. Akan tetapi, filsafat tetap filsafat dan bukan merupakan kumpulan atau keseluruhan ilmu. (Poedjawijatna, 1980, hlm.8)

3.      Oemar Amir Hoesin berpendapat, masalah lapangan penyelidikan filsafat adalah karena manusia mempunyai kecenderungan hendak berfikir tentang segala sesuatu dalam alam semesta, terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada.

4.      Louis O. Kattsoff  berpendapat, lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya, meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin di ketahui manusia (Burhanuddin Salam, 1988, Hlm.39)

5.      H.A Dardiri berpendapat, objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Kemudian, apakah gerangan segala sesuatu yang ada itu?
Segala sesuatu yang ada dapat dibagi dua, yaitu
a.  ada yang bersifat umum, dan
b.  ada yang bersifat khusus
Ilmu yang menyelidiki tentang hal ada pada umumnya disebut ontologi. Adapun ada yang bersifat khusus dibagi dua, yaitu ada yang mutlak, dan ada yang tidak mutlak. Ilmu yang menyelidiki alam disebut kosmologi dan ilmu yang menyelidiki manusia disebut antropologi metafisik. (H.A. Dardiri, 1986, hlm. 13-14)



      Setelah meneropong berbagai pendapat dari para ahli diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa objek material dari filsafat sangat luas mencakup segala sesuatu yang ada.

      Adapun permasalahan dalam kefilsafatan mengandungciri-ciri seperti yang dikemukakan Ali Mudhofir (1996), yaitu sebagai berikut.
               a. Bersifat sangat umum. Artinya, persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus. Sebagian besar masalah kefilsafatan ide-ide besar. Misalnya, filsafat tidak menanyakan ’’berapa harta yang Anda sedekahkan dalam satu bulan?’’ Akan tetapi, filsafat menanyakan ’’apa keadilan itu?’’
               b. Tidak menyangkut fakta disebabkan persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan yang dihadapi dapat melampaui pengetahuan ilmiah.
               c.  Bersangkutan dengan nilai-nilai (values), artinya persoalan kefilsafatan bertalian dengan nilai, baik nilai moral, estetis, agama, dan sosial. Nilai dalam pengertian ini adalah suatu kuaitas abstrak yang ada pada sesuatu hal.
               d. Bersifat kritis, artinya filsafat merupakan analisis secara kritis terhadap konsep dan arti yang biasanya diterima dengan begitu saja oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis.
               e. Bersifat sinoptik, artinya persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
               f. Bersifat implikatif, artinya kalau sesuatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, dari jawaban tersebut akan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan. Jawaban yang dikemukakan mengandung akibat lebih jauh yang menyentuh berbagai kepentingan manusia.

B.     OBJEK FORMAL FILSAFAT

 Objek formal, yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu disorot. Objek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah ’’manusia’’ dan manusia ini ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya.
  Objek formal filsafat, yaitu sudut pandangan yang menyeluruh, secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. (Lasiyo dan Yuwono, 1985, hlm. 6). Oleh karena itu, yang membedakan antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain terletak dalam objek material dan objek formalnya. Kalau dalam ilmu-ilmu lain objek materialnya membatasi diri, sedangkan pada filsafat tidak membatasi diri. Adapun pada objek formalnya membahas objek materialnya itu sampai ke hakikat atau esensi dari yang dihadapinya.[4]

3.     PERAN FILSAFAT
Apakah pernah filsafat dalam wawasan lingkungan? Bagi banyak orang pertanyaan tadi kiranya mirip dengan pertanyaan “Apakah peran atau fungsi kepala kerbau yang di tanam di tempat dimana sebuah gedung modern akan di dirikan?” Pertanyaan seperti itu mengandung arti atau makna bahwa dalam hidup atau kehidupan umat manusia, manusia tidak terlepas dari alam lingkungan, tempat dimana ia berada dan dari mana ia mengharapkan akan dapat memperoleh apa yang ia butuhkan. Dan apa yang ia butuhkan itu, sesuai dengan sifat dan hakekatnya, adalah hal yang tidak saja bersifat material, melainkan juga hal-hal yang bersifat spiritual-rokhaniah.
Memang  dalam dua dasawarsa  terakhir ini kita melihat adanya berbagai masalah dasar atau fundamental yang di hadapi umat manusia dalam hidup dan kehidupanya, justru di kala semua bangsa dan negara tengah melancarkan berbagai macam upaya untuk mewujudkan suatu masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat yang damai, sejahtera, adil dan makmur, baik material maupun spiritual.
Berbagai masalah dasar yang di maksud, di samping masalah-masalah dasar yang bersifat filsafati seperti apa yang di sebut alienasi, anomi, kehidupan yang tidak lagi utuh karena semakin bercerai-cerai nilai-nilai cipta, rasa dan karsa, juga masalah dasar yang lain seperti apa yang di sebut kemelaratan dan kemiskinan, keresahan akan kemungkinan timbulnya kembali perang dunia, semakin terbatasnya sumber-sumber kenyataan alam di kala justru jumlah penduduk dunia semakin membesar dan lain sebagainya.




[1] Drs.Surajiyo.Ilmu Filsafat Suatu Pengantar.Jakarta. Jl. Sawo Raya No. 18. PT Bumi Aksara. Hal.1
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat
[3] Mizan Media Utama (MUU).Filsafat Hikmah Pengantar Pemikiran Sandra.Jl. Yodkali No.16 Bandung 40124. Hal.46
[4] Drs.Surajiyo.Ilmu Filsafat Suatu Pengantar.Jakarta. Jl. Sawo Raya No. 18. PT Bumi Aksara. Hal. 5




#ARTI, OBYEK, DAN PERAN FILSAFAT#makalah #filsafat #agama #psikologi #tasawuf