Our social:

Latest Post

Thursday, 17 August 2017

Tarekat syatariyah 2

tarekat syattariah
Description: kkllk
Bab I
Latar belakang

Tasawuf dalam pemahaman kita sebelumnya adalah usaha pendekatan atau usaha individual dalam mengungkap realitas dengan pengalaman batin, namun pada saat ini kita semua juga sudah mengetahui bahwasannya tasawuf sekarang bukan hanya sekedar usaha pribadi dalam melakukan pengalaman batin dalam mengungkap realitas, akan tetapi tasawuf sudah menjadi suatu disiplin ilmu yang sangat penting untuk kita ketahui dan kita pelajari.
Dengan menjadi nya tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu maka akan muncul pertanyaan pertanyaan yang mendasar, dimanakah tasawuf ini dapat dipelajari, siapa-kah yang mengajarkan tasawuf, bagaimana kah cara yang yang diajarkan untuk menjadi seorang sufi. Sekiranya masih banyak pertanyaan yang dapat kita lontarkan.
Sekilas untuk menjawab pertanyaan pertanyaan diatas antara lain yaitu, bahwasanya tasawuf dapat dipelajari dalam sebuah tarekat, dalam sebuah tarekat di situ diajarkan bagai mana kita dapat mencapai tingkatan sufi dengan metode-metode yang sesuai dengan metode yang ada dalam tarekat tersebut, dalam sebuah tarekat itu seorang mudir yang dianggap sebagai guru dalam sebuah tarekat itu mengajarkan metodenya kepada para pangikutnya dalam mencapai tingkatan sufi tersebut.
Ada begitu banyak tarekat-tarekat di dunia ini, baik itu yang terkenal ataupun tidak, dan baik itu mempunyai atau ada hubungan atau tidak nya dengan indonesia bahwasannya tarekat sudah menyebar keseluruh dunia dengan metode-metode yang mereka bawa. Dalam berbicara tarekat yang memiliki hubungan dengan indonesia ada banyak juga tarekat yang masuk ke indonesia dalam menyebarkan metodenya, tidak sedikit yang mengikuti tarekat yang masuk ke indonesia. Salah satu tarekat yang memiliki hubunganya dengan indonesia adalah tarekat syatariah. Tarekat ini akan dibahas lebih luas dan panjang lebar di dalam pembahasan selanjutnya,
Pembahasan mengenai sejarah muncul dan masuknya ke indonesia, metode pengajaranya, silsilah pendiri, bagai mana pula ajaran tarekat syatariah ini sangatlah penting untuk kita ketahui berhubungan dengan tarekat syatariah ini masuk dalam salah satu ruang sejarah dalam indonesia, maka selayaknya kita mengetahuinya sebagai warga negara indonesia. Maka dari itulah tarekat syatariah ini akan kami kupas dalam tulisan kami ini.
Sekilas tentang tarekat syatariah ini, bahwasannya tarekat ini sering dihubungkan dengan pendirinya yaitu syah abdul allah al-syattari dalam penamaan tarekat ini. Yang mana pendiri tarekat ini dari referensi yang tidak begitu banyak yang menyebutkan bahnwasannya Syaikh Abdullah Asy-Syattar, masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Syaikh Syihabuddin Abu Hafs Umar al-Suhrawardi (539-632 H/1145-1234 M) ulama sufi yang mempopulerkan Tarekat Suhrawardiyah. Kemungkinan besar ia dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara (Samarkand). Di sinilah, dia diresmikan menjadi anggota Tarekat Isyqiyah oleh gurunya, Syaikh Muhammad Arif.
Namun karna tarekat yang pertama yang ia ikuti ini tidak dapat berkembang di daerahnya maka ia pun dipindahkan oleh gurunya ke india, dari sini lah setalah syah al-syattar ini mendirikan tarekat syattariah, begitu pula setelah perpindahannya ke india lah tarekat syattariah mulai muncul dalam sejarah tarekat dunia.
Namun bagai manakah tarekat syattariah masuk ke indonesia?. Dalam menyebarkan dan memperluas wilayah dalam menyebarkan pemikirannya tarekat syattariah masuk ke indonesia, dengan menyuguhkan metode mereka, tidak sedit pula yang mengikuti tarekat ini di indonesia. Begitu banyak yang perlu kita bahas, tidak cukup hanya sekilas yang telah disampaikan diatas, dalam tulisan ini akan di bahas secara mendalam mengenai tarekat ini dalam pembahasan selanjutnya.
Rumumasan masalah
  1. Apa yang dimasud dengan tarkeat syattariah itu
  2. Kapankah munculnya tarekat syattariah dan masuknya ke indonesia
  3. Siapakah pendiri tarekat syattariah ini
  4. Bagaimanakah metode yang mereka ajarkan atau bagaimanakah ajatan mereka
Tujuan penuliasan
Tujuan penulisan makalah ini bertujuan untuk menjawab semua rumusan masalah yang telah kami tetapkan sebagai dasar dari masalah yang akan kami bahas dalam tulisan ini, selain itu penulisan ini bertujuan agar kita semakin tau dengan tarekat syattariah ini di indonesia lebih mendalam.
Bab II
Pembahasan

Sejatah kemunculan tarekat syattariah
Tarekat ini bernama Tarekat Syattariyah. Syattariyah sendiri  dihubungkan kepada seseorang yang bisa dikatakan sebagai pendiri tarekat ini yaitu Syah Abd Allah al-Syattari (w.890 H/1485). Sejatinya ketika melihat daftar nama-nama ulama yang terdapat pada silsilah tarekat ini, yang para penganutnya meyakini mereka sebagai pembawa ajaran dan amalan yang mereka terima itu pada hakikatnya atau substansi ajaran-ajarannya itu berasal dari Nabi SAW. Jadi, para tokoh-tokok yang nanti akan kami jelaskan pada bagian selanjutnya tidaklah bertindak sebagai pencipta ritual tarekat, seperti zikir dengan berbagai metodenya, melainkan hanya merumuskan dan membuat sistematikanya saja.[1]
Mengenai sang tokoh, yakni Syaikh Abdullah Asy-Syattar, hanya sedikit riwayat yang bisa diketahui. Beliau masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Syaikh Syihabuddin Abu Hafs Umar al-Suhrawardi (539-632 H/1145-1234 M) ulama sufi yang mempopulerkan Tarekat Suhrawardiyah. Kemungkinan besar ia dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara (Samarkand). Di sinilah, dia diresmikan menjadi anggota Tarekat Isyqiyah oleh gurunya, Syaikh Muhammad Arif.
Namun karena popularitas Tarekat Isyqiyah ini tidak berkembang di tanah kelahirannya, dan bahkan malah semakin memudar akibat perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah, Syaikh Abdullah Asy-Syattar dikirim ke India oleh gurunya tersebut. Semula, ia tinggal di Jawnpur. Kemudian, pindah ke Mondu, sebuah kota Muslim di daerah Malwa (Multan). Keputusan yang diambilnya ternyata tepat karena di sinilah akhirnya dia memperoleh popularitas dan berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah. Tidak diketahui, apakah perubahan nama dari Tarekat Isqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India atau atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya pada tahun 1428 M.
Jika kita lihat dalam proses perkembangan tarekat ini, khususnya di India, yang menjadi basis utamanya kala itu, yaitu sekitar abad ke 15, tarekat ini memiliki akar keterkaitan dengan tradisi Transoxiana, yang silsilahnya terhubungkan kepada Abu Yazid al-Isyqi dan kemudian  terhubung lagi kepada Abu Yazid al-Bastami (w. 260 H/ 873M) dan Imam Ja’far as-Shadiq (w. 146 H/763). Sehingga tidak mengherankan jika kemudian tarekat ini dikenal dengan nama Tarekat Isyqiyah di Iran, atau Tarekat Bistamiyah di Turki Utsmani yang sempat popular pada abad ke 5 H di wilayah Asia Tengah sebelum akhirnya memudar dan pengaruhnya digantikan oleh Tarekat Naqsybandiyah.[2]
Dalam upaya penyebaran  tarekat ini, Syah Abd allah al-Syattar beserta muridnya mengembangkan kecendrungan untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan tradisi dan ritual masyarakat setempat yang masih dipengaruhi ajaran atau ritual Hindu yang dengan demikian tak heren jika kita lihat konsep tasawuf dan tarekat yang mereka bawa bersifat sinkretis, serta memiliki persamaan dengan konsep-konsep dan ritual Hindu.
Syah Abd Allah  mendirikan khanqah pertama bagi para pengikutnya di desa Mandu.  Beliau juga menulis sebuah kitab yakni  Lata’if al-Gaibiyyah, tentang prinsip-prinsip dasar ajaran Tarekat Syattariyyah,  yang disebut sebagai cara tercepat untuk mencapai tingkat ma’rifat.[3] Karya beliau ini pada akhirnya disempurnakan oleh dua orang murid utamanya yaitu Syeikh Muhammad A’la atau dikenal juga dengan Syaikh Qadi Bengal(Qazam Syattari) dan Syaikh Hafiz Jawnpur. Menariknya kendatipun 2 Syeikh tersebut adalah murid utama dari Syah Abd Allah , bila kita lihat dalam silsilah yang masyhur dalam Tarekat Syattariyyah, nama kedua Syaikh tersebut tidak pernah kita jumpai. Melainkan nama-nama lain seperti Imam Qadhi al-Syattari, Syaikh Hidayat Allah al-Sarmasti, Sayaikh Hajji Huduri dan Syaikh Muhammad Gauts.
Selanjutnya, sebagai seorang khalifah Tarekat Syattariyyah, Syaikh Muhammad Gauts termasuk seorang khalifah yang berpengaruh besar bahkan bisa dikatakan sebagai yang paling berhasil memapankan doktrin dan ajaran tarekat ini. Beliau menulis sejumlah buku seperti Jawahir al-Khamsah, Kalid Makhzan, Dama’ir Basayir, dan Kanz al-Tauhid. Disamping buku-buku diatas, beliau juga menulis sebuah buku sebagai buah hasil hubungan dekat beliau dengan tokoh-tokoh agama Hindu, yaitu kitab Bahr al-Hayat  yang merupakan terjemahan dari Kitab Amrita Kunda yang didalamnya berisi beberapa persamaan antara konsep dan ritual Islam dalam aspek tasawuf dengan konsep dan ritual Hindu. Beliau juga mengadopsi teknik dan praktik yoga menjadi bagian dari formulasi zikir Tarekat Syattariyyah.
Syaikh Muhammada Gauts memiliki seorang yang bernama Syaikh Wajih al-Din Alawi (w1018 H/1609 M) yang tinggal di Ahmadabad, India. Beliau ini termasuk orang yang paling gigih membela gurunya dari tuduhan para ulama Gujarat yang telah menganggap  Syaik Muhammad Gauts menyimpang dari ajaran Islam, sebagai bentuk respon mereka dari karya beliau yang berjudul Mi’raj. Syaikh Wajih al-Din Alawi ternyata tidak hanya terjun dalam satu tarekat, dia juga tercatat telah bergabung di Tarekat Khisytiyah, Suhrawardiyah, Madariyah, Khalwatiyah, Hamadaniyah, naqsabandiyah, dan Tarekat Firdausiyah.
Selanjutnya, sampai wafatnya kedua Syaikh yang terakhir kami ceritakan, Tarekat Syattariyyah ini mengalami kemunduran dan popularitasnya tergeser oleh Tarekat Naqsabandiyah dan Qadiriyah. Untungnya, Syaikh Wajih al-Din Alawi masih menyisahkan seorang murid bernama Sibghat Allah ibn Ruh Allah Jamal al-Barwaji(w. 1015 H/1620 M).
Sibghat Allah ibn Ruh Allah Jamal al-Barwaji ini lahir di India dari orang tua berdarah Persia. Beliau ini teman karib dari Fadhl Allah al-Burhanpuri al-Hindi (w. 1029 H/1620 M), yang merupakan penulis kitab Tuhfat al-Mursalah ila Ruh al-Nabi dan kitab tersebut pernah menghebohkan kalangan Muslim Melayu Indonesia pada awal hingga abad 17 M.
Sibghat Allah ibn Ruh Allah Jamal al-Barwaji banyak melakukan perjalanan guna menyebarkan Tarekat Syattariyah. Mulai dari kota kelahirannya, dan kemudian para tahun 999 H/ 1591 M dia melakukan perjalanan ke Makkah untuk berhaji. Kemudaian dia juga sempat tinggal di Ahmadabad selama setahun, kemudian juga pernah ke Bijapur ( pusat sufi di India)  dimana dia berhasil merebut hati sang Sultan, Ibrahim Adil Syah. Dengan bantuan sang Sultan, beliau kembali ke Makkah pada musim haji 1005 H/1596 M dan kemudian menetap di Madinah. Di san dia membangun rumah dan ribat untuk menunjang kegiatan tarekat ini. dan kemungkinan besar semua fasilitas yang dia dapatkan merupakan wakaf atau hadiah dari sultan di Ahmadnagar serta pejabat-pejabat Utsmani di Madinah.[4]
Dari sinilah melalui usaha keras Sayid Sibghat, dan bisa dikatakan menjadi satu titik tolak menuju era baru Tarekat Syattariyyah itu sendiri. Sayid Sibghat wafat di Madinah, dan hingga sekarang dia dikenang sebagai ulama pengembara yang akhirnya menjadi teladan dalam interaksi keilmuan dan transmisi tradisi-tradisi kecil Islam dari India, selain itu juga beliau menjadi tokoh kunci dalam persebaran berbagai gagasan keislaman di Haramyn, memperkenalkan kitab Jawahir al-Khamsah karangan gurunya, Syaikh Muhammad Gauts, kepada ulama-ulama di Haramyn. Menulis sejumlah kitab di bidang tasawuf, kalam dan syarh atas tafsir al-Baydawi. Selain itu juga dia mempunyai banyak murid,  antara lain yang menjadi penerusnya adalah Ahmad al-Syinawi( lahir 975 H/ 1567 M) dan Ahmad al-Qusyasyi (991-1071 H/ 1583-1660M).
Singkat cerita setelah Syaikh Ahmad al-Syinawi wafat maka tanggung jawab penyebaran Tarekat Syattariyah di Haramayn jatuh kepada al-Qusyasyi.
Al-Qusyasyi sendiri sebenarnya telah mempunyai nama besar dalam bidang keilmuan, dia seorang penulis dan pengarang produktif pada masanya. Karyanya berjumlah puluhan dalam  berbagai bidang keilmuan, seperti tasawuf, hadis, fikih, ushul-al-fiqih dan tafsir. Dan yang baru diterbitkan yakni hanya al-Sint al-Majid.
Dibawah kepemimpimpinan al-Qusyasyi, Tarekat Syattariyah semakin mantap di Haramyn. Dan juga mengalami reorientasi dari sifat awalnya yang lebih menekankan aspek mistis menjadi sebuah tarekat yang mengajarka perpaduan syariat dan aspek mistis, atau yang lebih dikenal dengan istilah neo-sufisme. Selain itu juga, beliau bisa dikatakan sebagaii orang yang paling bertanggung jawab dalam menyebarkan tarekat ini di seluruh penjuru dunia, termasuk Melayu-Indonesia melalui murid-muridnya seperti Ibrahim al-Kurani ( 1023-1102 H/ 1614-1690 M) dan Syaikh Abdurrauf al-Singkili.
Al-Kurani juga lebih dikenal sebagai khalifah dalam Tarekat Naqsabandiyah namun lantaran hubungannya dengan al-Singkili maka peran beliau dalam penyebaran Tarekat Syattariyyyah menjadi penting. Mengapa ? karena beliau adalah guru utama al-Singkili, khususnya berkaiatan dengan pengetahuan tentang doktrin mistiko-filosofis yang dia pelajari.
Selanjutnya, Al-Singkili telah mampu menunjukkan kualitas dirinya sebagai ulama yang mumpuni, beliau  mampu merebut hati sejumlah ulama di Haramayn sehingga menjadikan dirinya sebagai murid utama. Dia menghabiskan 19 tahun di Haramayn untuk belajar berbagai pengetahuan Islam, seperti tafsir, hadis, fikih, tasawuf, kalam dan lain-lain. Beliau berguru pada tidak kurang dari 15 orang guru, 27 ulama terkenal, dan 15 tokoh mistik masyhur dari Jeddah, Makkah, Madinah, Mokha, bayt al-Faqih dan lainnya.
Kemudian masa kembali al Singkili dari Haramayn bisa dikatakan sebagai awal masuknya Tarekat Syattariyyah ke dunia Melayu-Indonesia dan beliau ini bisa jadi merupakan satu-satunya ulama yang paling otoritatif dalam menyebarkan tarekat ini di dunia Melayu-Indonesia melalui perantara murid-muridnya diantara yang paling terkemuka adalah Syaikh Burhanuddin dari Ulakan, Pariaman, Sumatra barat dan Syaikh Abdul muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya, jawa Barat.
Demikianlah sejarah singkat Tarekat Syattariyyah yang dapat kami sajikan yang  didalamnya kurang lebih telah mencakup tentang pendiri, tokoh-tokoh dan kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam tarekat ini.  Dan untuk pembahasan selanjutnya kami akan menyertakan Silsilah tarekat ini dan juga ajaran-ajaranya serta perkembangan tarekat Syattariyyah di Indonesia dan pengaruh-pengaruhnya.
Tokoh dan Silsilah tarekat syattariah
Rasulullah SAWW -> Imam Ali bin Abi Thalib -> Imam Husain -> Ali Zainal Abidin -> Muhammad al-Baqir -> Jaafar as-Shadiq -> Abu Yazid al-Bisthami -> Syekh Muhammad Maghrib -> Syekh Arabi Yazid al-Ghisqi -> Quthub Abu Muzhaffar Maulana Rumi al-Thusi -> Quthub Abu Hasan al-Harqani -> Syekh Hudaquli Mawuri al-Nahari -> Sayid Muhammad Asyiq -> Sayid Muhamad Arif -> Syekh Abdullah al-Syaththari -> Qadli al-Syaththari -> Hidayatullah Sarmats ->Syekh Haji Hushuri ->Sayid Muhammad Ghauts->Sayid Wajihuddin -> Sayid Shibghatullah -> Abu Muwahab Abdullah Ahmad -> Syekh Ahmad bin Muhammad -> Syekh Ahmad al-Qusyasyi -> Syekh Abdul Rauf al-Sinkili -> Syekh Haji Abdul Muhyi
Perkembangan tarekat syattariyyah di tanah nusantara.
Abdurrauf sendiri yang kemudian turut mewarnai sejarah mistik Islam di Indonesia, Sesudah Ahmad Qusyasyi meninggal, ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarekatnya. Sekembalinya abdurrauf al-sinkili dari haramayn pada awal paruh kedua abad 17 tepatnya pada tahun 1661 M, menjadi awal masuknya tarekat syattariyyah ke tanah nusantara. Setelah 19 tahun  beliau menghabiskan waktunya di haramayn untuk belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan, seperti tafsir, hadist, fiqh, tasawuf, ilmu kalam dan lain-lain. Beliau belajar berbagai pengetahuan agama tersebut pada tidak kurang dari 15 orang guru, 27 ulama terkenal, dan 15 tokoh sufi kenamaan di Jeddah, Makkah, Madinah, Mokha, Bait al-faqih, dan lain-lain.[5] Sesampainya di Aceh, beliau langsung menjadi pusat perhatian, baik bagi masyarakat pada umumnya maupun kalangan Istana karena kedalaman pengetahuannya.
Beliau dipercaya oleh sultanah safiyatuddin untuk menjadi Qodi malik al-adil,  pemuka agama yang bertanggung jawab terhadap berbagai permasalahan sosial-keagamaan. Karena kedudukan inilah al-sinkili lebih mudah menyebarkan gagasan-gagasan keagamaannya. Lebih dari itu, keadaan yang terjadi saat itu akibat kontroversi atau perdebadan panjang antara penganut doktrin ajaran wahdad al-wujud atau wujudiyyah, Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-sumatrai dengan Nuruddin al-Raniri, menjadikan beliau lebih dikenal karena keberadaannya menjadi penengah bagi konflik tersebut.
Pergelokan sosial-keagamaan yang terjadi di aceh, yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran keagamaan setempat, memberikan ruang khusus bagi tarekat syattariyyah untuk menjadi suatu pemahaman yang diminati, karena berbagai rumusan ajaran tarekat syattariyyah yang cenderung rekonsiliatif dengan selalu berusaha memadukan dua kecenderungan yang bertentangan. Kemudian, melalui perangai baik yang ditunjukkan oleh al-sinkili dalam menyikapi berbagai persoalan keagamaan di aceh, menjadikan beliau dikenal sebagai ulama santun yang luas pengetahuannya dan dihormati, sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya bagi masyarakat aceh, tetapi juga bagi masyarakat muslim di wilayah lainnya. Hal ini dapat dibenarkan dari banyaknya murid yang datang ke aceh untuk menuntut ilmu kepada beliau.
Diantara murid-muridnya yang paling terkenal adalah syaikh burhanuddin dari ulakan, pariaman, sumatra barat dan syaikh abdul muhyi dari pamijahan, tasikmalaya, jawa barat. Dari keduanyalah kemudian akan kita temukan perkembangan tarikat syattariyyah di wilayah masing-masing. Syekh Burhanuddin menjadi khalifah utama bagi semua khalifah tarekat syattariyyah di wilayah sumatra barat periode berikutnya, sementara syekh abdul muhyi menjadi penyambung estafet terhubungkannya silsilah tarekat syattariyyah di wilayah jawa barat khususnya, dan jawa pda umumnya. Dari sinilah kemudian akan kita bahas penyebarannya di tanah nusantara, yakni di wilayah sumatra barat dan wilayah jawa barat.
Perkembangan tarekat syattariyyah di Sumatra Barat.
Syekh burhanuddin ulakan, lahir sekitar tahun 1056 H/1646 M. Semasa kecilnya, beliau dipanggil Pono, lahir di daerah periangan, padang panjang daerah yang diyakini sebagai daerah asal minangkabau, alung pariaman. Ayahnya bernama pampak dari suku koto, sedangkan ibunya bernama nili dari suku guci. Sebelum belajar kepada syekh burhanuddin a;l-sinkili, dikisahkan bahwa pono muda berguru kepada syaikh ‘abdullah ‘arif di desa tapakis, seorang pengembara arab yang konon juga merupakan murid dari syekh al-kusyasyi di madinah.
Dalam menjalani masa belajarnya burhanuddin ulakan begitu dekat dengan gurunya, al-sinkili. Disebutkan juga bahwa beliau tergolong murid istemewa sang syekh. Burhanuddin ulakan begitu memiliki peran penting dalam proses islamisasi di minangkabau. Segera setelah menerima ijasah dari gurunya ia kembali ke kampung halamannya dan mendirikan surau syattariyyah  yang juga sebagai satu-satunya pusat keilmuan islam diwilayah ini. Surau ini pada mulanya diberi nama “ surau batang jelatang” dan kini dikenal dengan nama “surau gadang”.
Penting dimengerti bahwa melalui institusi tarekat syattariyyah yang menjadi sarana syekh burhanuddin ulakan dalam mendakwahkan islam, ajaran-ajaran islam tampaknya lebih mudah diterima oleh masyarakat minangkabau. Karena beliau menyajikan islam tarekat yang lebih mengedepankan pentingnya kualitas spritual dan penyucian batin dibandingkan praktek dan ritual tarekat pada umumnya. Begitu selanjutnya nama surau tidak bisa dipisahkan dalam tradisi tarekat di daerah sumatra barat ini, khususnya didataran daerah minangkabau. Karena dengan adanya institusi surau, yang secara umum telah memainkan peran penting dalam proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan islam.
Penguatan ajaran syattariyyah, neosufisme. Demikianlah di sumatra barat, tarekat syattariyyah telah menjadi salah satu pilar terpenting dalam penyebaran ajaran neosufisme, sehingga sangat berperan dalam pembentukan struktur masyarakat muslimnya.
Perkembangan tarekat syattariyyah di jawa barat
Seperti yang telah disinggung diatas, bahwa ajaran tarekat syattariyyah di jawa barat di bawa oleh syekh abdul muhyi, yang juga murid al-sinkili di aceh. Murid-murid tarekat syattariyyah di jawa barat hingga sekarang masih banyak dijumpai, antara lain di pamijahan, tasikmalaya, purwakarta, ciamis, cirebon, kuningan dan lain-lain.[6] Dikesultanan banten secara spesifik memberikan gambaran ajaran tarekat, selain menjadi sarana untuk memperoleh kekuatan spritual, juga diyakini oleh kalangan istana sebagai media yang dapat mendukung, melegitimasi dan semakin memperkuat kedudukan mereka sebagai kekuasa.
Diantara murid-murid  syekh abdul muhyi yang disebutkan dalam kitab-kitab tarekat syattariyyah adalah, H abdullah dan H M. Hasanuddin, karang , supardi; syekh abu hasan, raja galuh; kiai hasan maolani, lengkong; kiai nur muhammad pasir astana; kiai nur ali, purwakarta; dan bagus muhammad reja, sukaraja.
Perkembangan tarekat syattariyyah dijawa barat dan jawa secara menyeluruh dibawa langsung oleh syekh abdul muhyi, yang kemudian disebarluaskan oleh murid-muridnya yang juga sebagai pemimpin-pemimpin atau kiai di wilayah masing-masing. Hingga pada akhirnya tarekkat syattariyyah dikenal luas dengan ajarannya ke seluruh pulau jawa.

Ajaran Dzikir Tarekat Syattariyah
Dalam kitab Al-Simt al-Majid, Syeikh Ahmad al-Qusyasyi, khalifah Tarekat Syattariyah di Haramayn, menjelaskan berbagai tuntutan dan ajaran bagi para penganut tarekat, termasuk di dalamnya Tarekat Syattariyah. Kitab ini berisi aturan dan tata tertib menjadi anggota tarekat, serta juga berisi tuntutan tentang tata cara dzikirnya.
Menurut al-Qusyasyi, gerbang pertama bagi seseorang untuk masuk ke dunia tarekat adalah baiat dan talqin. Oleh karnanya, dalam kitab ini, al-Qusyasyi menjelaskan secara detail tata cara baiat dan talqin tersebut, bahkan dia membedakan antara tata cara baiat bagi laki-laki perempuan, dan anak-anak.
Menurut al-Qasyasyi, tata cara dzikir, baiat, dan talqin yang dikemukakanya itu tidak khusus bagi para penganut tarekat syattariyah saja, melainkan bagi semua al-murdin li al-suluk, siapa pun yang menempuh dunia tasawuf. Hal ini dapat dimaklumi karna al-Qusyasyi memang bergabung dengan tidak kurang dari selusin jenis tarekat, meskipun ia lebih menonjol perananya dalam penyebaran tarekat syattariyah ke berbagai penjuru dunia melalui murid-muridnya, termasuk ke dunia Melayu-Indonesia. Meski demikian, di kemudian hari, model dzikir, baiat, dan talqin yang dikemukakan al-Qusyasyi ini hampir secara keseluruhan diikuti oleh para ulama tarekat Syattariyah di dunia Melayu-Indonesia.
Praktek yoga yang merupakan ajaran agama hindu, diadopsi dan dipraktekkan menjadi bagian dari formulasi dzikir tarekat syattariyah, karna memang konsep dan ritual Islam, khususnya aspek tasawuf memiliki kedekatan dengan dengan ajaran Hindu.
Dalam apa yang disebut sebagai astanga-yoga misalnya, terdapat 5 hal berkaitan dengan latihan tubuh lahir, yakni: pengendalian diri, ketaatan, duduk dengan posisi tertentu, mengatur nafas dan menutup seluruh panca indra.
Adapun 3 hal yang berkaitan dengan penyempurnaan rohani, juga merupakan kelanjutan dari 5 tahap lahir sebelumnya adalah konsentrasi pikiran pada satu fokus tertentu, meditasi, samadi. Yang disebut trakhir merupakan suatu keadaan yang agak sulit dilukiskan dengan kata-kata. Seseorang yang tengah berada dalam keadaan samadi, akan merasakan kebahagiaan besar dalam dirinya. Lebih jauh kesendirianya sebagai manusia pun akan hilang. Dalam dunia tasawuf, keadaan samadhi ini mirip dengan konsep fana, yang merupakan tahap tertinggi pencapaian spritual tertinggi seorang salik.
Talqin
Talqin merupakan langkah yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum seseorang dibaiat menjadi anggota tarekat dan menjalani dunia tasawuf (suluk).
Menurut al-Qusyasyi, di antara tata cara talqin adalah calon murid terlebih dahulu menginap di tempat tertentu yang ditunjuk oleh syeikhnya selama tiga malam dalam keadaan suci (berwudhu).
Dalam setiap malamnya, ia harus melakukan sholat sunnat sebanyak enam rakaat, dengan tiga kali salam. Pada rakaat pertama dari dua rakaat pertama, setelah surat al-fatihah, membaca surah al-qodar enam kali, kemudian pada rokaat kedua, setelah surah al-fatihah, membaca surah al-qodar dua kali. Pahala sholat tersebut dihadiahkan kepada Nabi SAW. Seraya berharap mendapat pertolongan dari Allah SWT. Selanjutnya, pada rakaat pertama dari dua rokaat kedua, setelah surah al-fatihah, membaca surah al-kafirun lima kali, pada rokaat kedua, setelah membaca al-fatihah, membaca surah al-kafirun tiga kali, dan pahalanya dihadiahkan untuk arwah para Nabi, Keluarga, Sahabat, serta para pengikutnya.
Terakhir, pada rakaat pertama dari dua rakaat ketiga, setelah membaca surah al-fatihah, membaca surah al-ikhlas empat kali, dan pada rakaat kedua, setelah al-fatihah membaca surah al-ikhlas dua kali. Kali ini, pahalanya dihadiahkan untuk para arwah guru-guru tarekat, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya. Rangkaian sholat sunnah ini kemudian diakhiri dengan pembacaan sholawat kepada Nabi sebanya sepuluh kali.
Baiat
Setelah menjalani talqin, hal yang harus dilakukan seseorang yang akan menjalankan suluk adalah baiat. Secara hakiki, baiat menurut al-Qusyasyi merupakan ungkapan kesetiaan dan penyerahan diri dari seseorang murid secara khusus kepada seyikhnya, dan secara umum kepada lembaga tarekat yang dimasukinya. Seorang murid yang telah mengikrarkan diri masuk ke dalam dunia tarekat, tidak dimungkinkan lagi untuk kembali keluar dari ikatan tarekat tersebut.
Dalam dunia tarekat, baiat memiliki konsekuensi adanya kepatuhan mutlak dari seorang murid kepada syeikhnya, karna syeikh adalah perwakilan dari nabi yang diyakininya tidak akan membawa pada kesesatan. Kendati demikian, jika seorang syeikh ternyata menyalahi kaidah-kaidah syariat, maka al-Qusyasyi tidak menganjurkan untuk mematuhinya, karna masuk ke dalam dunia tarekat sama artinya masuk pada kewajiban syariat.

Kesimpulan
            Singkatnya kesimpulan dari tulisan ini bahwasannya tarekat syattariah ini didirikan oleh syah abdl allah al-syarti. Tarekat ini awal mulanya muncul di india karena sebelumnya ia berada di tarekat al-isyqiyah karena tidak berkembang di daerahnya sehingga oleh gurunya al-syarti ini dikirim ke india dan dia menemukan kecocokan di sana, dan terdirilah tarekat syattariah ini.
Tarekat ini juga sukses menyebarkan ajarannya di nusantara ini, dengan tidak sedikit orang-orang mengikuti tarekat ini. Khususnya perkembangan nya di daerah jawa. Tarekat ini sangat terkenal di daerah jawa timur, jawa barat, dan jawa timur.
Adapun ajaran yang diajarkan oleh tarekat syattariah antara lain ialah pengamalam dzikir, talqin, dan setelah melakukan talqin maka ketika kita ingin masuk kepada tarekan ini untuk menjalani suluk maka kita harus melakukan yang dinamakan baiat.
Singkatnya tarekat syattariah ini memiliki peranan penting di nusantara dalam penyebaran tentang tasawuf, dengan metode penyeebarab yang mereka lakukan khususnya di daerah jawa.


[1] Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A. Ensiklopedi Tasawuf ( Bandung : Angkasa  2008) Hal. 1194.
[2] Id. at 1155
[3] Dr. Hj. Sri Mulyati, M.A, Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia( Jakarta: Kencana, 2011) hal. 155.
[4] Ibid at 1197
[5] Tarekat-tarekat mukhtabarah di Indonesia, Dr. Hj. Sri Mulyati, Ma. Hal: 162
[6] Ibid, hal : 172


Makalah Tarekat Syatariyah

TAREKAT SYATTARIYAH

Tarekat Syattariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15. Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar.
Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah. Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid al-Isyqi, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun.
A.    ISI AJARAN TAREKAT SYATTARIYAH
1.    Hubungan Antara Tuhan dengan Alam
Menurut ajaran tarekat Syattariyah, alam diciptakan oleh Allah dari Nur Muhammad. Sebelum segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah, alam berada di dalam ilmu Allah yang diberi nama A’yan Tsabitah. la merupakan bayang-bayang bagi Dzat Allah. Sesudah A’yan Tsabitah ini menjelma pada A’yan Kharijiyyah (kenyataan yang berada di luar), maka A’yan Kharijiyyah itu merupakan bayang-bayang bagi Yang Memiliki bayang-bayang, dan ia tiada lain daripada-Nya.
Hal di atas dapat dijelaskan dengan mengambil beberapa contoh, antara lain:
a.    Pertama, perumpamaan orang yang bercermin, pada cermin tampak bahwa bagian sebelah kanan sesungguhnya merupakan pantulan dari bagian sebelah kiri, begitu pula sebaliknya. Dan jika orang yang bercermin itu berhadapan dengan beberapa cermin, maka di dalam cermin-cermin itu tampak ada beberapa orang, padahal itu semua tampak sebagai pantulan dari seorang saja.
b.    Kedua, mengenai hubungan antara tangan dengan gerak tangan, sesungguhnya gerak tangan itu bukan tangan itu sendiri tetapi ia termauk dari tangan itu juga.
c.    Ketiga, tentang seseorang yang bernama Si Zaid yang memiliki ilmu mengenai huruf Arab. Sebelum ia menuliskan huruf tersebut pada papan tulis, huruf itu tetap (tsabit) pada ilmunya. Ilmu itu berdiri pada dzatnya dan hapus di dalam dirinya. Padahal hakikat huruf Arab itu bukanlah hakikat Si Zaid (meskipun huruf-huruf itu berada di dalam ilmunya), yang huruf tetaplah sebagai huruf dan Zaid tetap sebagai Zaid. Sesuai dengan dalil Fa al-kullu Huwa al-Haqq, artinya ‘Adanya segala sesuatu itu tiada lain kecuali sebagai manifestasi-Nya Yang Maha Benar’.
2.    Dzikir dalam Tarekat Syattariyah
a.    Aturan-aturan berdzikir
Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Penganut Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.
b.    Tingkatan dzikir
Pelaksanaan dzikir bagi penganut tarekat Syattariyah dibagi menjadi tiga tataran, yaitu: mubtadi (tingkat permulaan), mutawasitah (tingkat menengah), dan muntahi (tingkat terakhir). Tataran ini dapat dicapai oleh seseorang yang mampu mengumpulkan dua makrifat, yaitu ma’rifat tanziyyah dan ma’rifat tasybiyyah. Ma’rifat tanziyyah adalah ‘suatu iktikad bahwa Allah tidak dapat diserupakan dengan sesuatu apapun’. Pada makrifat ini segala sesuatu dilihat dari segi batiniah/hakikatnya. Sedangkan ma’rifat tasybiyyah adalah ‘mengetahui dan mengiktikadkan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar’, dalam makrifat ini segala sesuatu dilihat dari segi lahiriahnya.
c.    Macam-macam dzikir
Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqaddimah, sebagai tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengendalikan tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:
1)    Dzikir Thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.
2)    Dzikir Nafi Itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.
3)    Dzikir Itsbat Faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.
4)    Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.
5)    Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Illahi.
6)    Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Illahi.
7)    Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.
Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)”.
Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:
1)    Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.
2)    Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.
3)    Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.
4)    Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.
5)    Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.
6)    Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.
7)    Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.
Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (al-asma’ al-husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok.
1)    Menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain.
2)    Menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-’Alim, dan lain-lain.
3)    Menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu’min, al-Muhaimin, dan lain-lain.
Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas. Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.
d.    Syarat-syarat berdzikir
Secara terperinci, persyaratan-persyaratan penting untuk dapat menjalani dzikir di dalam Tarekat Syattariyah adalah: makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal; selalu berkata benar; rendah hati; sedikit makan dan sedikit bicara; setia terhadap guru atau syekhnya; kosentrasi hanya kepada Allah SWT; selalu berpuasa; memisahkan diri dari kehidupan ramai; berdiam diri di suatu ruangan yang gelap tetapi bersih; menundukkan ego dengan penuh kerelaan kepada disiplin dan penyiksaan diri; menjaga mata, telinga, dan hidung dari melihat, mendengar, dan mencium segala sesuatu yang haram; membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu, dan bangga diri; mematuhi aturan-aturan yang terlarang bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian berjahit.
B.    SANAD ATAU SILSILAH TAREKAT SYATTARIYAH
Sebagaimana tarekat pada umumnya, tarekat ini memiliki sanad atau silsilah para guru atau wasithah-nya yang bersambungan sampai kepada Rasulullah SAW. Di dalam tarekat ini, wasithah dianggap berhak dan sah apabila terangkum dalam mata rantai silsilah tarekat ini yang tidak putus dari Nabi Muhammad SAW lewat Ali bin Abi Thalib ra, hingga kini dan seterusnya sampai kiamat nanti; kuat memimpin mujahadah; dan memiliki empat martabat yakni mursyidun (memberi petunjuk), murbiyyun (mendidik), nashihun (memberi nasehat), dan kamilun (sempurna dan menyempurnakan).
Berikut contoh sanad Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh para mursyid atau wasithah-nya di Indonesia:
1.    Nabi Muhammad SAW kepada
2.    Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kepada
3.    Sayyidina Hasan bin Ali asy-Syahid, kepada
4.    Imam Zainal Abidin, kepada
5.    Imam Muhammad Baqir, kepada
6.    Imam Ja’far Syidiq, kepada
7.    Abu Yazid al-Busthami, kepada
8.    Syekh Muhammad Maghrib, kepada
9.    Syekh Arabi al-Asyiqi, kepada
10.    Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, kepada
11.    Qutb Abu Hasan al-Hirqani, kepada
12.    Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, kepada
13.    Syekh Muhammad Asyiq, kepada
14.    Syekh Muhammad Arif, kepada
15.    Syekh Abdullah asy-Syattar, kepada
16.    Syekh Hidayatullah Saramat, kepada
17.    Syekh al-Haj al-Hudhuri, kepada
18.    Syekh Muhammad Ghauts, kepada
19.    Syekh Wajihudin, kepada
20.    Syekh Sibghatullah bin Ruhullah, kepada
21.    Syekh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali, kepada
22.    Syekh Muhammad Ibnu Muhammad,
23.    Syekh Abdul Rauf Singkel, kepada
24.    Syekh Abdul Muhyi (Safarwadi, Tasikmalaya), kepada Kiai
25.    Mas Bagus (Kiai Abdullah) di Safarwadi, kepada
26.    Kiai Mas Bagus Nida’ (Muhyiddin) di Safarwadi, kepada
27.    Kiai Muhammad Sulaiman (Bagelan, Jateng), kepada
28.    Kiai Mas Bagus Nur Iman (Bagelan), kepada
29.    Kiai Mas Bagus Hasan Kun Nawi (Bagelan) kepada
30.    Kiai Mas Bagus Ahmadi (Kalangbret, Tulungagung), kepada
31.    Raden Margono (Kincang, Maospati), kepada
32.    Kiai Ageng Aliman (Pacitan), kepada
33.    Kiai Ageng Ahmadiya (Pacitan), kepada
34.    Kiai Haji Abdurrahman (Tegalreja, Magetan), kepada
35.    Raden Ngabehi Wigyowinoto Palang Kayo Caruban, kepada
36.    Nyai Ageng Hardjo Besari, kepada
37.    Kiai Hasan Ulama (Takeran, Magetan), kepada
38.    Kiai Imam Mursyid Muttaqin (Takeran), kepada
39.    Kiai Muh. Kusnun Malibari (Tanjunganom, Nganjuk) dan kepada
40.    KH Muhammad Munawar Affandi (Nganjuk).
C.    HUBUNGAN ANTARA SYARIAT DENGAN TAREKAT SYATTARIYAH
Sebelum diuraikan tentang Hubungan Antara Syariat dengan tarekat Syattariyah, perlu diketahui terlebilih dahulu mengenai pengertian syariat dan tarekat.
Ulama mutaakhirin memberikan istilah syariat sama dengan hukum fikih  yaitu ‘peraturan yang ditetapkan oleh Allah kepada kaum muslimin berdasarkan Alquran, Hadis, ljmak, dan Kias’. Peraturan itu disusun secara  terperinci yang berhubungan dengan tatacara peribadatan, prinsip-prinsip ajaran moral dan kehidupan, serta hukum-hukum mengenai hal-hal yang diperbolehkan untuk dikerjakan, untuk mengetahui yang benar dan yang salah.
Secara etimologi tarekat berasal dari kata Arab ”Tariqatun” yang berarti ‘jalan atau mazab’ atau ‘cara’. Kecuali itu tarekat diartikan ‘sebagai suatu sistem atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah dengan tujuan untuk memperoleh ridha Allah dengan dibimbing oleh seorang guru/mursyid yang memiliki hubungan silsilah (ilmu tarekat) sampai kepada Nabi Muhammad Saw. yang pengamalan ibadah itu lebih mengutamakan aspek batiniah daripada aspek lahiriahnya, dengan cara memperbanyak dzikir kepada Allah. Oleh sebab itu tarekat merupakan suatu metode pelaksanaan teknis untuk mencapai hakikat ilmu tauhid secara haqqul yakin.
Untuk selanjutnya pembahasan mengenai hubungan syariat dengan tarekat Syattariyah di sini akan dibatasi pada tiga hal:
1.    Tinjauan secara syariat mengenai ajaran tarekat Syattariyah
2.    Tinjauan secara syariat mengenai guru tarekat Syattariyah
3.    Tinjauan secara syariat mengenai tarekat Syattariyah
1.    Secara garis besar tarekat Syattariyah mengajarkan tentang tata cara pelaksanaan dzikir. Di dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang masalah dzikir yang jumlahnya lebih banyak daripada ayat-ayat yang menjelaskan tentang shalat, zakat, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan dzikir (secara luas) memiliki kedudukan yang cukup penting dibanding dengan ibadah-ibadah yang lainnya. Pelaksanaan dzikir di dalam tarekat Syattariyah dilakukan dengan jahar (bersuara) dan sirri/ khafi (dalam hati) Pembacaan dzikir secara bersuara merupakan ibadah yang lazim dikerjakan dan cukup diketahui dasar-dasarnya oleh kebanyakan umat Islam. Sedangkan pembacaan dzikir dengan hati kurang banyak dikenal/diketahui oleh kebanyakan umat Islam, dan ini didasarkan pada firman Allah: Berdzikirlah kau dengan hatimu secara merendahkan diri dan rasa takut, dzikir itu tidak diucapkan secara lisan. Dan didasarkan pada Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Baihaqi sebagai berikut: Dzikir yang tidak terdengar oleh Malaikat Hafazhah itu lebih utama daripada dzikir secara bersuara, dengan perbandingan satu banding tujuh puluh (Adz-dzikru l-ladzi la tasma’u hu 1-Hafazhatu yazidu ‘ala dz-dzikri l-ladzi tasma’u hu l-Hafazhatu bi sab’ina dhi’fan).
2.    Dalil-dalil yang menguatkan tentang peranan guru tarekat adalah sebagai berikut.
a.    Man laa Syaikhun Mursyidun lahu fa Mursyidu hu ‘sy-syaithaan  artinya, ‘Barangsiapa tidak memiliki guru yang berderajat Mursyid, maka ia dibimbing oleh setan’.
b.    Hadis Nabi: Kun ma’a’I-Laah fa in lam takun ma’a ‘I-Laah fa kun ma’a man ma’a ‘I-Laah fa innahu yuushiluka ilaa ‘I-Laah artinya ‘Hendaklah kau selalu beserta Allah, jika tidak dapat demikian besertalah dengan orang yang dekat dengan Allah, ia akan membimbingmu ke jalan Allah’.
c.    Alquran: ‘Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah ia tidak akan memperoleh     ‘Waliyyam Mursyida’ (pembimbing kerohanian).
d.    Alquran: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah ‘Al-Wasilah’ (Channel..berfungsi sebagai pembimbing, bukan perantara), bersungguh-sungguhlah di jalan itu mudah-mudahan kamu sukses” (Q.S. Al-Maidah 35).
3.    Tujuan pengamalan dzikir di dalam tarekat Syattariyah adalah untuk mencapai martabat insan kamil yaitu tingkat kesempurnaan (yang lazim menurut ukuran manusia). Tingkatan ini dapat diperoleh oleh seseorang, jika ia dapat mengumpulkan dua makrifat yaitu makrifat Tanziyyah dan makrifat Tasybiyyah, (mengetahui secara mendalam tentang sesuatu hal secara lahiriah dan batiniah). Hal ini didasarkan pada firman Allah di dalarn Alquran surat Al-Hadid ayat 11: Allah adalah Dzat yang Maha Pertama dan Maha Kemudian, Maha Lahir dan Maha Batin.
D.    MAKNA MAKRIFAT DALAM SYATTARIYAH
Di dalam naskah Syattariyah dikemukakan tentang tiga pengertian ma’rifat yaitu:
1.    Makrifat Tanziyyah adalah pengetahuan makrifat yang diperoleh dengan cara memperhatikan/mempelajari segala sesuatu dari segi batiniah/hakikatnya. Orang yang memiliki makrifat ini mengiktikadkan bahwa Allah tidak dapat diserupakan dengan sesuatu apapun. Hal ini didasarkan pada Alquran surat Asy-Syura: 11.
2.    Makrifat Tasybiyyah adalah ma’rifat yang diperoleh dengan cara mempelajari segala sesuatu dari segi lahiriahnya. Di dalam makrifat ini mereka mengiktikadkan bahwa Allah memiliki sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat (Q.S.Asy-Syura: 11).
3.    Himpunan antara makrifat Tanziyyah dan Tasybiyyah, yaitu makrifat yang diperoleh oleh orang-orang sufi dengan cara mempelajari segala sesuatu dari segi lahiriah dan batiniahnya. Makrifat inilah yang dianggap sempurna oleh orang-orang sufi, hal ini didasarkan kepada firman Allah bahwa “Ia (Maha Kuasa) terhadap hal-hal yang lahir dan yang batin (Q.S. Al-Hadid: 3). Pendapat ini dikuatkan pula oleh Syech Abu Sa’id Al-Harazi bahwa ”Hakikat ke-Tuhanan itu dapat dikenal meialui pemaduan dari dua hal yang bertentangan” (hal. 18).
Berdasarkan keterangan di atas dapat kita ketahui bahwa fungsi khusus naskah Syattariyah adalah untuk memberikan penjelasan kepada pembaca tentang masalah ketauhidan dan hal ihwal ma’rifat.
Referensi
Abdullah, Hawash. 1980. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-Tokohnya di Nusantara. Surabaya: Al Ikhlas.
Abdurrauf Singkil dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrauf_Singkil diakses tangal 10 Februari 2009
Istadiyantha. 2006. Fungsi Tarekat Syattariyah: Suatu Telaah Filologis. Solo. dalam http://istayn.files.wordpress.com/2007/12/pibsi-2006.doc diakses tanggal 15 Maret 2009.
Mulyati, Sri. 2006. Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka. Jakarta: Kencana.
Tarekat Syattariyah dalam
http://hannanramdhaniassegaf.blogspot.com/2008/04/tarekat-syattariyah.html diakses tanggal 15 Maret 2009



RANGKUMAN EKONOMI MAKRO BINTANG MAHARDHIKA PUTRA BANGSA

RANGKUMAN EKONOMI MAKRO
BINTANG MAHARDHIKA PUTRA BANGSA
BAB 4
KESEIMBANGAN EKONOMI DUA SEKTOR

·         Perekonomian dua sector adalah perekonomian yang terdiri dari dua sector perusahaan dan sector rumah tangga. Dalam perekonomian tidak dapat pemerintah, berarti dalam perekonomian tersebut tidak terdapat pajak dan pengeluaran pemerintah. Perekonomian itu juga tidak melakukan perdagangan luar negri dan dengan demikian perekonomian itu tidak melakukan kegiatan eskpor dan impor.
·         Dalam perekonomian dua sector sumber pendapatan yang diperoleh rumah tangga adalah dari perusahaan. Pendapatan ini yang meliputi gaji, upah, sewa, bunga, dan keuntungan adalah sama nilainya dengan pendapatan nasioanl. Dan karna pemerintah tidak memungut pajak maka pendapatan nasional (Y) adalah sama dengan pendapatn disposebel.
·         Pendapatan yang didapatkan oleh rumah tangga digunakan dalam dua tujuan yaitu : untuk pengeluaran konsumsi (membeli barang dan jasa) dan ditabung (di institusi keuangan). Tabungan ini akan dipinjamkan kepada penanam modal atau investor (perusahaann-perusahaan yang akan menggembangkan usaha baru, memperbesar usaha lama, atau memodernkan pabrik yang ada) dan akan digunakan untuk membeli barang-barang modal seperti mesin-mesin, peralatan produksi lain, mendirikan bangunan pabrik dan bangunan kantor.
·         Dalam perekonomian dua sector komponen pengeluaran agregat terdiri dari : perbelanjaan konsumsi rumah tangga untuk membeli brang dan jasa, dan perbelanjaan perusahaan-perusahaan untuk membeli barang-barang modal. Dalam persamaan algebra, persamaan agregat pengeluaran adalah : AE = C + I. penawaran agreagat meliputi pendapatan nasional (AS = Y).
·         Dalam Bab Tiga telah diterangkan bahwa keseimbangan pendapatan nasioanal akan dicapai apabila Y = AE. Dengan demikian syarat keseimbangan dalam perekonomian dua sector adalah : Y = C + I. telah diterangkan diatas, pada setiap pendapatan nasioanal berlaku persamaan : Y = C + S. apabila Y diganti dengan C + S, maka dalam keseimbangan berlaku persamaan : C + I = C + S, atau I = S. dengan kata lain, dalam perekonomian dua sector yang mencapai keseimbangan, berlaku keadaan berikut:
·         Pendapatan nasional = pengeluaran agregat : Y = C + I.
·         Suntikan = Bocoran : I = S.
·         Pengeluaran rumah tangga mempunyai tiga ciri utama berikut : factor utama yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga adalah pendapatan yang diterimanya, pada pendapatan sebesar nol, yaitu apabila rumah tangga tidak kerja, konsumsi tetap akan dilakuakan dan ini dinamakan pengeluaran otonomi (pengeluaran yang tidak bergantung pada pendapatan nasional) dan apabila berlaku pertambahan pendapatan akan berlaku pertambahan konsumsi, tetapi pertambahanya kurang dari pada pertambahan pendapatan.
·         Berdasarkan kepada ketiga ciri konsumsi seperti dinyatakan dalam ringkasan, secara grafik dapat dibentuk fungsi konsumsi dan fungsi tabungan, yang secara grafik menunjukan hubungan antara konsumsi, tabungan, dan pendapatan nasioanl.
·         Di samping pendapatan disposebel atau pendapatan nasioanal, terdapat pula beberapa factor lain yang menentukan pengeluaran konsumsi dan tabungan. Yang terpenting adalah: suku bunga, sikap berhemat, kekayaan yang dimiliki, distribusi pendapatan, keadaan perekonomian masa kini dan masa mendatang dan jaminan pendapatan di masa pension.
·         Investasi adalah pengeluaran perusahaan untuk membeli barang modal. Secara statistic ia dibedakan kepada tiga komponen: pengeluaran ke atas barang modal, membangun rumah tempat tinggal, dan perubahan dalam stok (investasi). Dalam teori makroekonomi investasi utama meliputi komponen yang pertama. Factor utama yang mempengaruhi investasi adalah: suku bunga, tingkat pengambilan modal, prospek masa depan, dan perkembangan teknologi. Dalam jangka panjang investasi juga dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Semakin tinggi pendapatan nasional, semakin tinggi investasi. Teori yang menerangkan efek pendapatan nasioanal kepada investasi dinamakan prinsip akselerasi. Teori tersebut diterangkan dalam teori makroekonomi yang lebih mendalam.
·         Dalam memahami ciri-ciri investasi perusahaan perusahaan dua hal berikut perlu dipahami: efisiensi invests marjinal (atau efidiensi modal marjinal) dan fungsi investasi. Efisiensi investasi marjinal menunjuan antara hubungan antara suku bunga dengan tingkat investasi yang akan dilakukan pada suatu tahun tertentu. Tingkat investasi inilah yang akan menentukan kedudukan fungsi investasi, yang menunjukan antara tingkat investasi dengan pendapatan  nasional.
·         Analisis keseimbangaan pendapatan nasional dapat dilakukan dengan menggunakan tiga cara: cara (table berangka), cara grafik dan cara algebra. Cara tabular adalah contoh angka yang menunjukan data berikut : (pendapatan nasional), (konsumsi), (tabungan), (investasi), dan (pengeluaran agregat). Keseimbangan pendapatan nasional ditentukan dengan menggunakan syarat keseimbangan dalam perekonomian dua sector. Secara grafik keseimbangan dicapai pada keadaan di mana garis AE = C + I memotong garis 45 derajat dan dari perpotongan fungsi investsi (I) dan fungsi tabungan (S). secara algebra keseimbangan dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan Y = C + I atau S = I.
·         Efisiensi investasi marjinal (MEI) adalah: suatu garis atau kurva yang menunjukan hubungan antara suku bunga dengan jumlah investasi yang akan dilakuakan oleh perusahaan-perusahaan.
·         Fungsi konsumsi adalah : sat ugaris atau kurva yg menunjukan hubungan diantara perbelanjaan konsumsi rumah tangga dengan pendapatan nasional. Garis tersebut menarik kekanan karna semakin tinggi pendapatan nasional, semakin tinggi perbelanjaan rumah tangga.
·         Fungsi tabungan adalah : sat ugaris atau kurva yang menunjukan hubungan diantara tabungan rumah tangga dengan pendapatan nasional. Garis tersebut menanjak ke kiri atas karna semakin tinggi pendapatan nasioanal semakin tinggi pembuatan.
·         Fungsi investasi adalah : sat ugaris atau kurva yang menunjukan hubngan diantara tingkat investasi yang dilakuakan dengan tingkat investasi yang dilakukan dengan pendaptan nasional. Garis tersebut adalah sejajar dengan sumbu daftar oleh karna investasi tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional yang dicapai, apakah tinggi atu rendah. Invstasi yang demikian dinamakan investasi otonomi. Dalam grafik, fungsi investasi dan fungsi konsumsi rumah tangga akan berbentuk fungsi pengeluaran agregat (AE). Dalam persamaan AE = C + I.
·         Investasi bruto (pembentukan modal tetap bruto) adalah : jumlah atau nilai pengeluaran perushaan perusahaan untuk membeli barang-barang modal dalam suatu tahun tertentu. Investasi bruto ini dibedakan kepada dua komponen yaitu : investasi neto dan investasi pengantian. Investasi neto meliputi tambahan barang (stok) modal ekonomi. Investasi dapat pula dibedakan sebagai berikut : investasi otonomi, yaitu investasi yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional, dan investasi terpengaruh yaitu : investasi yang dipengaruhi oleh pendapatan nasional.
·         Kecondongan mengkonsumsi adalah : suatu gambaran mengenai sikap konsumen, yang menunjukan sejauh mana rumah tangga akan berbelanja apabila memperoleh pendapatan. Konsep ini dibedakan kepada dua pengertian : kecondongan konsumsi marjinal (MPC) yaitu rasio di antara pertambahan konsumsi dengan pertambahan pendapatan dan kecondongan rata-rata yaitu rasio di antara konsumsi dan pendapatan.
·         Kecondongan menabung adalah : suatu gambaran mengenai sikap konsumen, yang menunjukan sejauh mana rumah tangga akan menabung apabila memperoleh pendapatan. Konsep ini dibedakan menjadi dua hal yaitu : kecondongan menabung marjinal (MPS), yaitu rasio di antara pertambahan tabungan dan pertambahan pendapatan, dan kecondongan menabung rata-rata yaitu : rasio diantara tabungan dan pendapatan.
·         Keseimbangan pendapatan nasional ekonomi dua sector adalah : keadaan yang berlaku dalam ekonomi dua sector yang dimana pengeluaran agragat sama dengan penawaran agregat. Kesamaan ini akan menentukan tingkat kegiatan ekonomi negara yang dicapai, pendapatan nasional, dan kesempatan kerja dan pengangguran.
·         Konsumsi rumah tangga adalah : nilai perbelanjaan yang dilakukan rumah tangga untuk membeli barang dan jasa dalam suatu tahun tertentu. Konsumsi rumah tangga memiliki tiga ciri yaitu : jumlahnya terutama ditentukan oleh pendapatan nasional, pada pendapatan nasional o jumlah konsumsi adalah “a”, dan rasio diantara pertambahan konsumsi dan pertambahan pendapatan nasional adalah “b”.
·         Makan tabungan adalah : suatu keadaan dimana rumah tangga berbelanja melebihi dari pendapatan yang diterimnya. Kekurangan uang untuk pengeluaran itu harus dibiayai dari tabungan (atau meminjam) atau dari sumber lain (misalnya menjual harta).
·         Multiplier adalah : suatu angka yang menunjukan sejauh mana pendapatan nasional akan berubah efek dari perubhan dalam pengeluaran agregat.
·         Uang kini adalah : nilai dari masa uang dimasa yang akan dating. Contoh anda akan menerima uang 110 ribu rupiah pada stu tahun kemudian. Bunga uang adalah 10 persen. Maka nilai kini uang itu adalah 110 ribu /1,10=100.000 rupiah.
·         Pendapatan disposebel adalah : pendapatan yang sebenarnya diperoleh oleh rumah tangga dan dapat digunakan untuk membeli barang, jasa dan ditabung. Pendapatan yang tidak diperoleh oleh rumah tangga meliputi pejak pendapatan dan konstribusi untuk dana pension.
·         Perekonomian dua sector adalah : suatu model dalam analisis pendapatan nasioanal yang hanya memisalkan perusahaan-perusahaan dan rumah tangga saja yang menjalankan kegiatan ekonomi. Dalam perekonomian dua sector tidak terdapat pemerintah dn perekonomian itu tidak melakukan perdagangan luar negri. Analisis keseimbangan pendapatan nasional juga memiliki dua bentuk perekonomian yaitu perekonomian tiga sector (ekonomi tertutup) yang meliputi pemerintah dan perekonomian empat sector (ekonomi terbuka) yang meliputi ekspor dan impor. Dalam dunia yang nyata ini adalah perekonomian empat sector, termasuk Indonesia juga.
·         Rasio modal produksi adalah : suatu angka yang menunjukan besrnya modal yg diperlukan untuk menghasilkan barang yang bernilai satu rupiah. Contoh : apabila investasi sebesar 200 juta rupiah setiap tahunnya dan produksinya bernilai Rp 50 juta, maka rasio modal produksi adalah 4.
·         Tabungan (rumah tangga) adalah : bagian dari pendapatan rumah tangga yang tidak dibelanjakan dan disimpan dalam istitusi keuangan atau di rumah.

·         Tingkat pengembalian modal adalah : rasio (yg dinyatakan dalam persen) di antara pendapatan neto rata-rata yang akan diterima pada setiap tahun dengan jumlah modal yang diinvestasikan. Tingkat pengambalian modal tersebut biasanya merupakan ramalan keuntungan rata-rata yang akan diterima (sebagai presentasi dari modal yang diinvestasikan) dalam setiap tahun dari sejumlah investasi tertentu. Tingkat pengembalian modal termasuk salah satu dari factor-faktor penting yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan perusahaan dalam melakukan investasi. Factor penting lainya adalah suku bunga.