Our social:

Latest Post

Monday, 23 May 2016

pengetahuan dan hakekat kebenaran


I.    Latar Belakang
Kehidupannya didunia, manusia membutuhkan ilmu pengetahuan untuk mencari  kebenaran. Karena, dengan  menemukan kebenaran  tersebut, manusia akan  mendapatkan ketenangan  dalam dirinya. Dalam pencarian  kebenaran itu manusia  menggunakan berbagai cara yang setiap individunya berbeda.
Kebenaran menurut setiap  individu dapat berbeda-beda,  tergantung sudut pandang dan  metode yang digunakan oleh  individu tersebut. Manusia  sebagai makhluk pencari  kebenaran dalam  perenungannya akan  menemukan tiga bentuk  eksistensi, yaitu agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat kebenaran.  Agama mengantarkan dalam  kebenaran, sedangkan ilmu pengetahua dan filsafat kebenaran  membuka jalan untuk mencari  kebenaran.

II. Rumusan Masalah
1.      Apa itu ilmu pengetahuan?
2.   Apa itu hakekat kebenaran agama?




III. Pembahasan

A.   Ilmu Pengetahuan

download



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster

DAFTAR PUSTAKA
-       Syafi’i, Pengantar Filsafat, Inu kencana.  Bandung: Refika Aditama, 2004.
- Suriasumantri, Filsafat Ilmu,Sebuah Pengantar Populer, Jujun. Jakarata: Pustaka Sinar harapan, 1990.
- Surajio, Filsafat Ilmu & Perkembanganya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
        - Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2011.
- Susanto, A. Filsafat Ilmu, Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistimologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara. 2013.




[1]  Drs.Surajio, Filsafat Ilmu & Perkembanganya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Hal.152.
[2]  Drs.Surajio, Filsafat Ilmu & Perkembanganya di Indonesia,(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Hal.26.
[3] Filsafat Ilmu: Kontemplasi filosofis tentang seluk beluk sumber dan tujuan ilmu pengetahuan.7.
[4] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Hal.1


#islam#makalah#thariqah #agama #kebenaran #pengetahuan

ALIRAN AL-ASY'ARIAH

ASY’ARIYAH
MAKALAH
Mata kuliah : Sejarah Pemikiran Kalam
Dosen pengampu : Achmad Bisri
Description: C:\Users\ANDRA\Downloads\Logo 3D UIN Walisongo.png
Disusun oleh :
Akhadiyah Dwi Ningsih ( 15040360   )
Nur Azizah Fitriani ( 1504036017 )

PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016




PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Membicarakan lahirnya sebuah aliran sangat terkait dengan konteks sosial dan pemikiran pada masa aliran tersebut lahir, oleh karena itu dalam membicarakan lahirnya aliran Asy’ariyah kita harus meneropong konteks sosial dan pemikiran yang melatar belakangi lahirnya aliran tersebut[1].
Antara golongan-golongan tersebut memiliki pemikiran-pemikiran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang masih dalam koridor al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi ada juga yang menyimpang dari kedua sumber ajaran agama Islam tersebut. Ada yang berpegang pada wahyu, ada pula yang menetapkan akal dengan berlebihan sehingga keluar dari wahyu. Dan ada pula yang menamakan dirinya sebagai Ahlussunnah wal jama’ah.
Pada perkembangan selanjutnya aliran ini banyak dianut oleh mayoritas umat Islam karena dianggap sebagai aliran Sunni yang mampu mewakili cara berpikir yang diharapkan umat Islam di tengah-tengah pergolakan hati akibat beberapa aliran yang datang lebih dulu.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah berdirinya aliran Asy’ariyah ?
2.      Siapa saja tokoh-tokoh aliran Asy’ariyah ?
3.      Apa saja yang menjadi doktrin-doktrin teologi aliran Asy’ariyah ?



PEMBAHASAN

lihat kelanjutanya di




download di sini



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster



B.     DAFTAR PUSTAKA

A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam. Jakarta: Pustaka Husna baru.2003

Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam (Bandung: Pustaka Setia, 2010)

Ahmad Mahmud Subhi, Fil Ilmil Kalam, Kairo: Dar al-Kutb al-Jami’ah. 1969

Harun Nasution, Teologi Islam, ( Jakarta: Universitas Indonesia press, 1986)

Muhammad Idrus Ramli, Madzab Al-Asy’ariyah, , Khalista Surabaya, April 2009

Novan Ardy Wiyani, Ilmu Kalam, (Bumiayu: Teras, 2013)

Sahilun A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994)




[1] Muhammad Idrus Ramli, Madzhab Al-asy’ariyah, Khalista Surabaya, April 2009, hal 2
[2] Sahilun A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), cet. II, hlm. 154.
[3] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 120.
[4] Ahmad Mahmud Subhi, Fil Ilmil Kalam, hlm. 182.
[5] Novan Ardy Wiyani, Ilmu Kalam, (Bumiayu: Teras, 2013), hlm. 149.
[6] A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam, hlm. 130
[7]Ibid., hlm. 131
[8] Muhammad Idrus Ramli, Madzab Al-Asy’ariyah, op.cit, hlm. 70-80
[9]Harun Nasution, Teologi Islam, hlm. 69-71





#Makalah #teologi #tasawuf #ilmu kalam #thariqah #islam

Monday, 16 May 2016

Bagaimana cara menentukan pokok masalah?

PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Manusia sebagai makhluk rasional sebenarnya sudah dibekali dengan hasrat ingin tahu. Keingintahuan manusia ini sudah dapat disaksikan sejak seseorang masih kanak-kanak dan akan terus berkembang secara dinamis mengikuti fase-fase perkembangan kejiwaan orang tersebut. Hasrat ingin tahu manusia akan terpuaskan bila ia sudah memperoleh pengetahuan mengenai apa yang dipertanyakan.
Dapat dikatakan bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kepuasan mutlak untuk menerima realita yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Untuk mendukung dan menyalurkan keingintahuannya, maka manusia akan cenderung mengadakan penelitian.
Selain itu masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu tersedia dan cukup banyak,hingga peniliti mengidentifikasikannya, dan merumuskan permasalahan tersebut. Kegiatan mengidentifikasi masalah meliputi kegiatan mencari masalah kemudian memilih atau menentukan satu topik sebagai fokus kegiatan penelitian

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana cara menentukan pokok masalah?
2.      Bagaimana cara merumuskan pokok masalah?






PEMBAHASAN


A.    Cara menentukan pokok masalah/mengidentifikasi masalah

Agar topik atau permasalahan yang ditentukan benar-benar berharga untuk diteliti maka peneliti perlu memperhatikan kriteria yang bersifat ilmiah agar masalah penelitian itu memberi sumbangan bagi ilmu pengetahuan yaitu meliputi:
1.      Masalah itu hendaknya bertalian dengan konsep-konsep yang pokok.
2.      Masalah itu hendaknya mengembangkan atau memperluas cara-cara mentes suatu teori.
3.      Masalah itu memberi sumbangan kepada pengembangan metodologi penelitian dengan menemukan alat, teknik, atau metode baru.
4.      Masalah itu hendaknya memanfaatkan konsep-konsep, teori, atau data dan teknik dari disiplin-

l  lihat versi lengkapnya di




                              download di sini



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster


DAFTAR PUSTAKA
Fauzi, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif. Semarang: Walisongo Press
Prasetyo, Bambang, dkk. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: RajaGrafindo
            Tuwu, Alimuddin.1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI-Press
           
           



[1] Muchamad Fauzi, Metode Penelitian Kuantitatif, Walisongo Press, Semarang, 2009, hlm. 36-37
[2] Alimuddin Tuwu, Pengantar Metode Penelitian, UI-Press, Jakarta, 1993, hlm. 7
[3] Bambang Prasetyo, dkk, Metode Penelitian Kuantitatif, RajaGrafindo, Jakarta, 2012, hlm. 60-61
[4] Muchamad Fauzi, Metode Penelitian Kuantitatif, Walisongo Press, Semarang, 2009,
hlm. 47-54










DAFTAR PUSTAKA
Fauzi, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif. Semarang: Walisongo Press
Prasetyo, Bambang, dkk. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: RajaGrafindo
            Tuwu, Alimuddin.1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI-Press
#makalah #islam #filsafat #tasawuf #ilmu
           
           




[1] Muchamad Fauzi, Metode Penelitian Kuantitatif, Walisongo Press, Semarang, 2009, hlm. 36-37
[2] Alimuddin Tuwu, Pengantar Metode Penelitian, UI-Press, Jakarta, 1993, hlm. 7
[3] Bambang Prasetyo, dkk, Metode Penelitian Kuantitatif, RajaGrafindo, Jakarta, 2012, hlm. 60-61
[4] Muchamad Fauzi, Metode Penelitian Kuantitatif, Walisongo Press, Semarang, 2009,
hlm. 47-54

Tafsiran Surat Menurut al-Qurthubi, Thabathaba’i, Hasbi ash-Shiddieqy, Sayyid Quthb dan Ibnu Katsir.

       I.            PENDAHULUAN
Al-quran adalah sumber hukum  bagi umat manusia selain hadist dalam menunjukkan bagaimana sikap kita dalam keseharian. Dalam memahami alquran tentunya semua orang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing, begitu juga seorang mufasir dalam menafsirkan al-quran sesuai dengan keahlian mereka dalam bidangnya tidak menutup kemungkinan tafsir tersebut akan condong kepada keahlian mufasir tersebut.
Dalam kesempatan ini pemakalah mencoba menjelaskan tafsir tentang ayat ibadah dalam surat al-baqarah: 62 dengan menggunakan berbagai macam tafsir diantarannya, tafsir al-qurthubi, al-mizan, madjid an-nur, fi dzilalil quran dan ibnu katsir dari berbagai macam tafsir tersebut banyak memiliki perbedaan dan berbagai macam pemikiran dalam memaknai ayat. Semoga menjadikan kita semua menambah wawasan baru dan bisa membuka cakrawala keilmuan agar selalu berkembang menjadi yang lebih baik.
    II.            POKOK PEMBAHASAN
A.    Asbab al-Nuzul Surat al-Baqarah: 62
B.     Tafsiran Surat Menurut al-Qurthubi, Thabathaba’i, Hasbi ash-Shiddieqy, Sayyid Quthb dan Ibnu Katsir


.
 III.            PEMBAHASAN

A.    Asbab al-Nuzul Surat al-Baqarah: 

versi lengkapnya silahkan di lihat di

lihat disini



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster






    V.            DAFTAR PUSTAKA
As-syuyuti,  Jalaluddin (Mustofa. H. a) . riwayat turunya ayat-ayat suci al-quran. 1993. Semarang: cv asy Syifa’.
Al-qurthubi, Syaikh Imam (Fathurrahman, Ahmad Hotib, Nashirul Haq). al-Jami’ Li Ahkaam al-Quran. 2010. Jakarta: Pustaka Azzam.
Thabathaba’I, Muhammad Husain Sayid (Ilyas Hasan). al-Mizan. 2010. Jakarta: Lentera.
Ash-siddoeqy, Tengku Muhammad Hasbi. Tafsir al-Quranul Madjid an-Nur jilid 1. 2011. Jakarta: Cakrawala Publishing.
Syahid,  Sayyid Quthb (As’ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyarahil, Muchotob Hamzah). Tafsir Fi Zhilalil Quran dibawah Naungan al-Quran jilid 1. 2000. Jakarta: Gema Insani Press.
Ar-rifa’I, Muhammad Nasib (Syihabuddin). Taisiru al-Aliyyul Qadir Li Ikhtishari Tafsir Ibnu Kasir jilid 1. 1999. Jakarta: Gema Insani Press.





[1] Jalaludin as-suyuti,lubabun nuquuli fii asbabin nuzuul(drs.h.a mustofa.riwayat turunya ayat-ayat suci al-quran).semarang:cv asyifa’.1993.h.85
[2] Syaih imam al-qurthubi’(fathurrahman,ahmad hotib,nashirul haq).al-jami’ li ahkaam al-quran.Jakarta:pustaka azzam.2010.h.940
[3] Sayid Muhammad Husain thabathaba’i(ilyas hasan).al-mizan.jakarta:lentera.2010.h.379
[4] Prof.dr.teungku Muhammad hasbi ash-shiddieqy.tafsir al-quranul madjid an-nur jilid 1. Jakarta:cakrawala publishing.2011.h.81
[5] Syahid sayyid quthb,(as’ad yasin,abdul aziz salim basyarahil,muchotob hamzah).tafsir fi zhilalil quran dibawah naungan al-quran jilid 1.jakarta:gema insani press.2000.h.131

Monday, 2 May 2016

HADIS TENTANG IMAN, ISLAM, IHSAN, DAN HARI KIAMAT

HADIS TENTANG IMAN, ISLAM, IHSAN, DAN HARI KIAMAT

MAKALAH
Di susun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Hadis
Dosen Pengampu :


Disusun oleh :
Ahmad Suyuti Ikhsan (1404036003)

PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG
Dalam agama islam memiliki tiga tingkatan yaitu islam, iman, dan ihsan. Tiap-tiap tingkatan memiliki rukun-rukun yang membangunya. Jika islam dan iman di sebut secara bersamaan, maka yang di sebut islam adalah amalan-amalan yang tampak dan mempunyai lima rukun. Sedangkan yang di maksud iman adalah amal-amal batin yang memiliki enam rukun. Dan jika keduanya berdiri sendiri-sendiri, maka masing-masing menyandang makna dan hukumnya sendiri. Begitu juga dengan hari kiamat, yang tercantum dalam rukun iman yang kelima (iman kepada hari akhir). Iman kepada hari akhir adalah percaya akan adanya hari akhir, hari akhir adalah hari berakhirnya kehidupan dunia. Pada saat itu baik dan buruknya perilaku seseorang akan di catat tergantung bagaimana kadar keimanan seseorang dalam hatinya. Orang yang benar-benar beriman adanya hari kiamat akan senantiasa menjaga agar perilaku baik dan berusaha menjahui hal-hal yang buruk. Begitu juga sebaliknya.

B.  RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini akan menjelaskan tentang iman, islam, ihsan, dan hari kiamat.

C.  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui apa itu iman
2.      Untuk mengetahui apa itu islam
3.      Untuk mengetahui apa itu ihsan
4.      Untuk mengetahui apa itu hari akhir (hari kiamat)

VERSI LENGKAPNYA SILAHKAN DI LIHAT DI


    LIHAT DISINI



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster






#makalah #hadits #tasawuf #psikoterapi #tugas #kuat 

abbasiyyah

1.PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Sepeninggal Hisyam bin Abd al-Malik, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah, tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi. Akhirnya pada tahun 750 M, daulah Bani Umayyah dapat digulingkan dan pemerintahan pun berpindah tangan kepada Bani Abbasiyah. Karena sifat masalah yang berkembang di bawah dinasti Umayyah terlalu arogan membuat Bani Abbasiyah mengadakan suatu revolusi, bukan hanya melakukan pergantian dinasti saja. Kemajuan-kemajuan telah dirasakan oleh kaum muslimin dalam masa ini, terlebih ketika kepemerintahan dipegang oleh khalifah Harun al-Rasyid, dan putranya al-Makmun.
Dalam zamannya tersebut, berbagai disiplin ilmu telah dilahirkan atas jasa beberapa tokoh intelektual muslim, kedokteran, filsafat, kimia, sejarah, dan geografi, misalnya.





B.     RUMUSAN MASALAH
Bagaimana masa keemasan Abbasiyah
Bagaimana masa kemunduran Abbasiyyah

C.     TUJUAN
Supaya bisa mengetahui bagaimana masa keemasan Abbasiyah
Supaya bisa mengetahui apa saja Faktor-faktor Kemunduran Abbasiyah





II.PEMBAHASAN

A. Masa Keemasan Bani Abbasiyah
Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan

LIHAT VERSI LENGKAPNYA DI 


DOWNLOAD DISINI



PERHATIAN hilangkan tanda centang (~) pada download faster





DAFTAR PUSTAKA
Al-Maududi,Abul A’la, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Mizan, 2006.
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Thoha Putra, 2003.
Syalaby,A., Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1997.




[1]A. Syalaby, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1997, hlm. 2.
[2]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006, hlm. 50
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006, hlm. 52
[4]Badri Yatim, op.cit., hlm. 56.
[5]Ajid Thahir, op.cit., hlm. 54
[6] http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/sejarah/klb-manusia/1256/sebab-sebab-kemunduran-pemerintahan-bani-abbas-mas.html


#makalah #abbasiyah #sejarah #filsafat #peradaban #islam #unik #keislaman